Jakarta – Anak yang mengalami gerakan tutup mulut (GTM) saat waktu makan sering kali membuat orang tua khawatir. Terlebih jika kondisi tersebut terjadi ketika anak sedang membutuhkan banyak asupan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
GTM cukup umum dijumpai ketika anak mulai disapih atau memasuki masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pada fase ini, anak bisa menunjukkan berbagai bentuk penolakan terhadap makanan, seperti menutup mulut, menyemburkan makanan, hingga melepehkannya.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut tentu dapat membuat orang tua cemas, terutama apabila mulai berpengaruh terhadap berat badan atau asupan nutrisi anak.
Penyebab Anak Mengalami Gerakan Tutup Mulut
Ada berbagai faktor yang dapat membuat anak menolak makanan dan melakukan GTM. Beberapa di antaranya berkaitan dengan kebiasaan makan, perkembangan anak, hingga kondisi kesehatan tertentu.
1. Belum Terbiasa dengan Makanan Baru
Anak mungkin membutuhkan waktu untuk mengenali makanan yang baru pertama kali dicoba. Rasa takut atau enggan mencicipi makanan baru dapat membuat anak menolak dengan cara menutup mulut.
Pada sebagian anak, proses beradaptasi dengan makanan baru dapat berlangsung selama beberapa minggu bahkan bulan.
2. Terbiasa Menonton Video Saat Makan
Memberikan gadget agar anak mau makan mungkin terlihat sebagai cara praktis untuk membuatnya tetap tenang di meja makan. Namun, kebiasaan ini justru dapat membuat perhatian anak teralihkan.
Anak bisa menjadi lebih fokus pada video yang ditonton daripada makanan yang ada di depannya. Karena itu, sebaiknya waktu makan tidak disertai aktivitas lain seperti menonton video.
3. Sedang Tumbuh Gigi
Proses tumbuh gigi juga dapat menyebabkan anak kehilangan selera makan. Saat gigi tumbuh, gusi dapat terasa nyeri dan mengalami pembengkakan.
Rasa tidak nyaman tersebut bisa membuat anak enggan mengunyah atau membuka mulut ketika makanan diberikan.
4. Merasa Lelah
Memasuki usia sekitar 6 bulan, anak mulai mengalami berbagai perkembangan. Mereka mulai belajar duduk, lebih aktif bergerak, mengoceh, dan mengeksplorasi lingkungan.
Aktivitas yang semakin banyak tersebut terkadang membuat anak kelelahan sehingga nafsu makannya menurun dan ia memilih menolak makanan.
5. Tidak Menyukai Rasa atau Tekstur Makanan
Anak dapat memiliki preferensi tertentu terhadap makanan. Ada anak yang lebih menyukai rasa gurih, sementara lainnya lebih tertarik pada rasa manis atau asam.
Selain rasa, tekstur dan warna makanan juga dapat memengaruhi keinginan anak untuk makan. Pengenalan tekstur yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak juga berpotensi membuatnya menolak makanan.
Misalnya, ketika anak mulai memasuki usia yang membutuhkan perubahan tekstur makanan, proses peralihan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Perubahan tekstur yang terlalu cepat dapat membuat anak kesulitan beradaptasi.
6. Terlalu Banyak Camilan
Orang tua tentu ingin memastikan anak mendapatkan asupan yang cukup. Namun, pemberian susu, jus, atau camilan dalam jumlah t