Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal pada 2026 akibat pengaruh fenomena El Niño yang diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut diprediksi semakin diperkuat oleh peluang munculnya Indian Ocean Dipole (IOD) Positifpada paruh akhir tahun, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di berbagai daerah.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG memperluas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas guna mengurangi dampak kekeringan dan menekan potensi karhutla.
BMKG Siapkan Mitigasi Terpadu
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pemerintah terus memperkuat berbagai upaya pencegahan menghadapi ancaman hidrometeorologi selama musim kemarau.
Salah satu strategi yang dijalankan adalah memperluas operasi penyemaian awan untuk memanfaatkan potensi hujan alami sebelum kondisi kekeringan mencapai tingkat yang lebih serius. Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Sebagian Besar Wilayah Mulai Memasuki Puncak Kemarau
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan lebih dari separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga pertengahan Juli 2026.
Sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan tercatat telah mengalami musim kemarau. Puncaknya diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September, ketika sebagian besar daerah diprediksi menerima curah hujan di bawah rata-rata klimatologis.
BMKG juga mencatat sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan dalam durasi yang cukup panjang. Salah satu yang terlama terjadi di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan periode tanpa hujan mencapai sekitar 80 hari.
Risiko Karhutla Meningkat
Memasuki puncak musim kemarau, BMKG mendeteksi peningkatan jumlah titik panas di sejumlah kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Hingga akhir Juli 2026, lebih dari 5.000 hotspot terpantau tersebar di berbagai wilayah, terutama di Kalimantan Barat, Riau, Papua Selatan, serta beberapa daerah lain yang rawan mengalami kebakaran.
BMKG mengingatkan bahwa provinsi-provinsi di Sumatra dan Kalimantan diperkirakan menjadi kawasan dengan risiko karhutla tertinggi sepanjang Agustus hingga September. Pergerakan asap akibat kebakaran juga terus dipantau untuk mengantisipasi dampaknya terhadap kualitas udara.
El Niño Masih Berlanjut hingga 2027
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa indeks Niño 3.4 telah menunjukkan nilai yang menandakan El Niño berada pada kategori kuat.
Meskipun fenomena tersebut diprediksi bertahan hingga awal 2027, dampak terbesar bagi Indonesia diperkirakan terjadi selama periode musim kemarau. Di saat yang sama, BMKG juga terus memonitor perkembangan suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang berpotensi memicu IOD Positif pada akhir tahun.
Operasi Penyemaian Awan Terus Diperluas
Selama 2026, BMKG telah melaksanakan berbagai operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah yang rawan mengalami kekeringan maupun kebakaran hutan.
Operasi tersebut bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan, menjaga ketersediaan air, serta mengurangi risiko meluasnya karhutla.
Sejumlah daerah yang telah maupun sedang menjadi lokasi pelaksanaan OMC antara lain Aceh, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Riau.
Selain itu, BMKG juga menyiapkan operasi serupa di kawasan strategis seperti Daerah Tangkapan Air Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, serta DAS Mamasa guna menjaga cadangan air selama musim kemarau.
Dampaknya Menyentuh Pertanian hingga Kesehatan
BMKG menilai musim kemarau tahun ini berpotensi memengaruhi berbagai sektor penting.
Di bidang pertanian, petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi minim hujan.
Sementara itu, pengelola sumber daya air diminta mengoptimalkan pengelolaan bendungan dan pasokan air baku agar kebutuhan masyarakat maupun pembangkit listrik tetap terpenuhi.
Pada sektor kesehatan, masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan yang berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA). Selain itu, cuaca panas ekstrem juga dapat meningkatkan risiko heat stroke serta memengaruhi pola penyebaran penyakit seperti demam berdarah dan malaria.
Masyarakat Diminta Waspada
BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi prakiraan cuaca dan iklim sebagai acuan bagi pemerintah maupun masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi.
Masyarakat diimbau untuk rutin mengikuti informasi resmi BMKG serta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama bagi warga yang berada di wilayah rawan kekeringan, kebakaran hutan, maupun penurunan kualitas udara.