Jakarta – Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, terus menekan pasar energi global. Konflik yang masih berlangsung membuat harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif dan berpotensi berdampak terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan situasi geopolitik saat ini lebih kompleks dibandingkan konflik Rusia-Ukraina yang sebelumnya turut mengguncang pasar energi dunia.
Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia masih bertahan pada level tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan.
“Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, dikutip detikFinance, Sabtu (12/9/2026).
Harga Pertamax Berpotensi Naik ke Rp 20 Ribu
Eko menjelaskan, tingginya harga minyak mentah dunia dapat memberikan tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Apabila harga minyak dunia tetap berada di level tinggi dan belum memasuki tren penurunan, harga Pertamax berpotensi kembali mengalami kenaikan.
Dalam skenario tersebut, harga Pertamax bahkan dapat berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter.
“Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” beber Eko.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga BBM nonsubsidi sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah global. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang panjang, tekanan terhadap harga BBM di dalam negeri juga berpotensi semakin besar.
Harga Minyak Dunia Tembus US$ 108 per Barel
Sebelumnya, harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat.
Pada perdagangan Kamis, harga minyak bahkan sempat menyentuh US$108 per barel. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak Mei 2026.
Harga minyak dunia juga kembali berada di atas US$100 per barel pada pekan ini seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah.
AS dan Iran diketahui terlibat dalam aksi saling serang. Di sisi lain, kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran turut melancarkan serangan terhadap Arab Saudi.
Situasi tersebut semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Selat Bab al-Mandab yang merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan dan distribusi energi global.
Ketidakpastian Pasokan Dorong Harga Minyak Naik
Konflik yang berlangsung di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan pasokan energi dunia.
Ketidakpastian distribusi membuat para pedagang meningkatkan pembelian minyak mentah sebagai langkah antisipasi jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Kenaikan permintaan akibat kekhawatiran terhadap pasokan tersebut turut memberikan tekanan ke atas harga komoditas energi global.
Jika situasi geopolitik tidak segera mereda dan harga minyak dunia tetap berada di level tinggi, harga BBM nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax, berpotensi ikut terdampak.