Jakarta – Film horor fiksi ilmiah Backrooms kembali menarik perhatian publik setelah cuplikan promosinya menampilkan suara berbahasa Indonesia di tengah suasana mencekam yang menjadi ciri khas film tersebut. Kemunculan bahasa Indonesia dalam trailer membuat banyak penonton penasaran mengenai asal-usul rekaman tersebut.
Dalam salah satu adegan promosi, karakter Clark yang diperankan Chiwetel Ejiofor terlihat menjelajahi lorong-lorong berwarna kuning yang ikonik. Di sela suasana yang sunyi dan menegangkan, terdengar sebuah suara dalam bahasa Indonesia yang menyampaikan kalimat perpisahan kepada para pendengar.
Ternyata, suara tersebut bukan rekaman baru yang dibuat khusus untuk film. Sutradara muda Kane Parsons mengambilnya dari proyek legendaris milik NASA yang dikenal sebagai Voyager Golden Record.
Rekaman Bersejarah yang Dibawa ke Luar Angkasa
Voyager Golden Record merupakan piringan berlapis emas yang dikirim ke luar angkasa melalui wahana Voyager 1 dan Voyager 2 pada tahun 1977. Proyek ini dirancang sebagai pesan bagi kemungkinan kehidupan cerdas di luar Bumi, berisi berbagai representasi budaya dan kehidupan manusia dari berbagai negara.
Di dalamnya terdapat beragam suara alam, musik tradisional dan klasik, gambar kehidupan manusia, serta salam dalam 55 bahasa dunia. Salah satu rekaman tersebut berasal dari Indonesia dengan ucapan:
“Selamat malam hadirin sekalian. Selamat berpisah dan sampai bertemu lagi di lain waktu.”
Kalimat itulah yang kemudian dimanfaatkan dalam film Backrooms untuk menciptakan suasana yang terasa akrab namun sekaligus ganjil dan tidak nyaman bagi penonton.
Strategi Menciptakan Ketegangan
Kane Parsons dikenal kreatif dalam membangun atmosfer horor. Dengan memanfaatkan rekaman autentik yang pernah dikirim ke luar angkasa, ia menghadirkan nuansa yang unik sekaligus misterius. Penggunaan suara-suara dari Golden Record memberikan kesan bahwa dunia dalam Backrooms memiliki hubungan dengan ruang dan waktu yang berada di luar pemahaman manusia.
Pendekatan tersebut juga memperkuat konsep utama film yang menggabungkan rasa familiar dengan ketidakpastian, dua elemen yang menjadi fondasi utama genre horor liminal.
Berawal dari Fenomena Internet
Sebelum diadaptasi menjadi film layar lebar, Backrooms merupakan cerita urban digital atau creepypasta yang populer di internet sejak era 2010-an. Kisah ini menggambarkan seseorang yang tanpa sengaja terjebak di dimensi aneh berupa lorong-lorong kosong dengan dinding kuning dan pencahayaan yang monoton.
Popularitas konsep tersebut semakin meningkat setelah Kane Parsons mengunggah serangkaian video pendek bertema Backrooms di YouTube. Kesuksesan proyek independennya kemudian menarik perhatian rumah produksi A24 yang akhirnya mempercayakan Parsons untuk mengembangkan kisah tersebut menjadi film panjang.
Horor dan Fiksi Ilmiah dalam Satu Dunia
Film Backrooms tidak hanya mengandalkan elemen horor tradisional, tetapi juga menggabungkannya dengan konsep fiksi ilmiah. Cerita mengenai dimensi alternatif dan ruang yang berbeda dari realitas manusia menjadi fondasi utama alur film.
Sementara itu, rasa terisolasi, ketidakpastian, dan tekanan psikologis yang dialami karakter menghadirkan atmosfer horor yang kuat. Kombinasi kedua unsur tersebut membuat Backrooms sering dikategorikan sebagai film sci-fi horror dengan sentuhan liminal horror, subgenre yang mengeksplorasi ruang-ruang familiar namun terasa asing dan mengganggu.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 10 Juni 2026 dan menjadi salah satu film horor yang paling dinantikan oleh penggemar genre tersebut.