Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menyebut pagelaran Tona Sian Huta sebagai representasi autentik budaya Batak yang mampu memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka langsung pagelaran yang berlangsung di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Menurutnya, pelestarian budaya yang dikemas secara kreatif dapat menjadi kekuatan baru bagi pembangunan daerah, khususnya di kawasan Danau Toba.
Budaya Dinilai Mampu Menjadi Penggerak Ekonomi
Riefky menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan berpotensi menjadi sumber inspirasi sekaligus nilai ekonomi apabila dikelola secara inovatif.
Ia menegaskan bahwa pengenalan budaya kepada generasi muda melalui berbagai pertunjukan kreatif menjadi langkah penting agar warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, kawasan Danau Toba memiliki peluang besar untuk menjadikan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Seni Pertunjukan Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
Kementerian Ekraf memandang seni pertunjukan sebagai salah satu subsektor yang memiliki dampak ekonomi luas karena melibatkan banyak pelaku industri kreatif.
Ekosistem tersebut mencakup seniman, musisi, kreator, pemilik kekayaan intelektual (intellectual property), hingga berbagai sektor pendukung yang turut memperoleh manfaat dari penyelenggaraan sebuah pertunjukan budaya.
Riefky menilai Tona Sian Huta menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya lokal dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus sejalan dengan arah pengembangan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045.
Opera Batak Dikemas Lebih Modern
Mengusung tema “Tona Sian Huta” atau “Pesan dari Kampung Halaman”, pagelaran tersebut memadukan pertunjukan Opera Batak dengan konser musik bernuansa tradisional dan modern.
Acara menghadirkan berbagai seniman, di antaranya stand-up comedian Joel Purba, penyanyi Maria Simorangkir, Victor Hutabarat, Style Voice, serta puluhan pemain opera dan musisi lokal maupun nasional.
Kolaborasi lintas seni tersebut diharapkan mampu memperkenalkan budaya Batak kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda, tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya.
UMKM Lokal Ikut Mendapat Ruang Promosi
Selain menyuguhkan pertunjukan seni, pagelaran ini juga melibatkan sekitar 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Beragam produk kuliner, kriya, dan fesyen khas daerah dipamerkan kepada para pengunjung sehingga kegiatan budaya sekaligus menjadi sarana promosi bagi produk lokal.
Keterlibatan UMKM menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Diharapkan Menjadi Motor Pengembangan Danau Toba
Inisiator kegiatan sekaligus Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menegaskan bahwa Opera Batak merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi dan layak terus dilestarikan.
Melalui penyelenggaraan Tona Sian Huta, ia berharap tercipta ekosistem yang menghubungkan seni pertunjukan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM sehingga saling mendukung dalam mendorong pembangunan daerah.
Dengan kolaborasi tersebut, pagelaran budaya tidak hanya menjadi sarana menjaga tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di kawasan Danau Toba sekaligus memperkuat posisi budaya Batak sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.