Jakarta – Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Mohan Hazian, pemilik brand fesyen Thanksinsomnia, menjadi perhatian luas publik. Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa pelecehan seksual dapat terjadi di berbagai ruang, termasuk dalam lingkungan kerja dan hubungan profesional.
Nama Mohan mulai ramai diperbincangkan sejak Senin malam, 9 Februari 2026, setelah sebuah utas di platform X yang diunggah akun @aarummanis viral di media sosial.
Dalam unggahan tersebut, pemilik akun mengaku pernah menjadi korban dugaan pelecehan seksual oleh sosok berinisial M, yang disebut sebagai pemilik brand lokal. Peristiwa itu diklaim terjadi pada 2025, seusai sesi pemotretan saat korban bekerja sebagai model fesyen untuk brand terkait.
Korban menuturkan dirinya diduga dipaksa melakukan tindakan tidak pantas. Ia mengaku sempat melakukan perlawanan dengan mendorong, mencakar, dan memukul terduga pelaku, serta mengalami ketakutan dan trauma setelah kejadian tersebut.
Seiring viralnya unggahan itu, warganet berspekulasi mengenai identitas sosok yang dimaksud. Nama Mohan Hazian kemudian banyak dikaitkan dengan tuduhan tersebut. Manajemen Thanksinsomnia menyatakan bahwa Mohan telah dinonaktifkan dari seluruh bentuk kerja sama.
Melalui pernyataan tertulis, Mohan menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf. Ia membantah tudingan pemerkosaan yang beredar di media sosial.
“Saya menyadari sebagai manusia memiliki banyak kekurangan dan pernah mengambil keputusan di masa lalu yang tidak bijak. Namun perlu saya tegaskan, saya bukan seorang pemerkosa dan tidak pernah memperkosa siapa pun,” tulisnya.
Ia juga mengakui adanya kesalahan pribadi di masa lalu yang berdampak pada keluarganya, seraya menyatakan penyesalan atas perbuatannya.
Cara Mencegah Pelecehan Seksual
Berkaca dari kasus tersebut, upaya pencegahan pelecehan seksual perlu menjadi perhatian bersama, baik individu maupun institusi. Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya pelecehan seksual:
1. Memahami Bentuk Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual tidak selalu berupa kontak fisik. Komentar bernuansa seksual, candaan yang melewati batas, pesan pribadi yang tidak pantas, hingga penyalahgunaan relasi kuasa juga termasuk bentuk pelecehan. Mengenali bentuk-bentuk ini menjadi langkah awal pencegahan.
2. Menetapkan dan Menyampaikan Batasan
Menegaskan batasan pribadi, terutama dalam hubungan profesional, sangat penting. Jika merasa tidak nyaman dengan sikap atau perlakuan seseorang, sampaikan keberatan secara tegas dan jelas.
3. Menghindari Situasi yang Berisiko
Sebisa mungkin hindari pertemuan tertutup tanpa saksi, khususnya dengan pihak yang belum memiliki hubungan profesional yang kuat. Pilih ruang terbuka atau libatkan pihak ketiga saat melakukan diskusi kerja.
4. Menyimpan Bukti
Apabila mengalami atau menyaksikan indikasi pelecehan, simpan bukti seperti tangkapan layar percakapan, rekaman, atau catatan kronologi kejadian. Bukti ini penting jika diperlukan untuk proses pelaporan.
5. Melapor ke Pihak Berwenang
Korban memiliki hak untuk melapor kepada atasan, HRD, lembaga perlindungan korban, atau aparat penegak hukum. Melapor merupakan langkah untuk memperoleh perlindungan dan keadilan.
6. Membangun Budaya Kerja yang Aman
Institusi perlu memiliki kebijakan tegas terkait pelecehan seksual, serta melakukan edukasi dan sosialisasi secara berkala guna menciptakan lingkungan yang aman dan beretika.
7. Memberikan Dukungan kepada Korban
Menghentikan budaya menyalahkan korban menjadi kunci penting. Dukungan moral, empati, dan kepercayaan terhadap korban dapat membantu mereka berani bersuara.