Jakarta – Telepon spam dari nomor tak dikenal semakin sering dikeluhkan masyarakat Indonesia dan dinilai sangat mengganggu aktivitas harian.
Selain berpotensi menjadi modus penipuan, panggilan semacam ini kerap datang berulang kali dalam waktu singkat.
Salah satu keluhan datang dari warganet di media sosial X melalui akun @tany****** pada 9 Januari 2026. Dalam unggahannya, ia membagikan tangkapan layar berisi deretan panggilan masuk dari berbagai nomor asing yang muncul hampir bersamaan.
“Teman-teman, ada yang tahu solusi supaya enggak kena spam call seperti ini? Dalam sehari bisa sampai 40 kali ditelepon. Ganggu banget. Mohon bantuannya,” tulis pemilik akun tersebut.
Unggahan itu langsung menarik perhatian publik dan memicu lebih dari 530 komentar. Banyak pengguna mengaku mengalami kejadian serupa dan merasa terganggu oleh maraknya panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Sofia (24), warga Wonogiri, juga menyampaikan keluhan serupa. Ia mengatakan hampir setiap hari menerima telepon spam, dengan jumlah mencapai belasan panggilan.
“Kadang sehari bisa 5 sampai 15 kali ditelepon nomor enggak dikenal. Biasanya enggak saya angkat, tapi tetap bikin terganggu sampai saya aktifkan mode pesawat,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).
Lantas, apa yang menyebabkan fenomena telepon spam semakin marak, dan bagaimana cara mengatasinya?
Akar Masalah Telepon Spam
Direktur Riset Keamanan Siber CISSREC, Pratama Persada, menilai maraknya spam call bukan sekadar gangguan komunikasi biasa, melainkan cerminan dari lemahnya perlindungan data pribadi di Indonesia.
“Dari perspektif keamanan siber, spam call menjadi indikator bahwa pengelolaan dan perlindungan data pribadi masih belum serius,” kata Pratama kepada Kompas.com, Selasa.
Ia menjelaskan, nomor telepon merupakan aset digital bernilai tinggi karena bersifat unik, jarang berubah, dan terhubung dengan berbagai layanan penting, mulai dari perbankan hingga layanan pemerintah.
“Ketika terjadi kebocoran data, nomor telepon menjadi target empuk karena bisa dimanfaatkan untuk berbagai kejahatan digital,” ujarnya.
Menurut Pratama, kebocoran data kerap terjadi di berbagai sektor, seperti e-commerce, layanan keuangan, pinjaman online, asuransi, hingga layanan publik. Nomor telepon yang terekspos kemudian diperjualbelikan di pasar gelap digital.
“Sering kali ini bukan akibat satu kebocoran besar, melainkan akumulasi dari banyak insiden kecil yang terjadi bertahun-tahun dan tidak pernah ditangani secara tuntas,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa spam call tidak selalu berkaitan langsung dengan kebocoran data. Praktik pengumpulan data yang berlebihan dan tidak transparan juga berperan besar.
Spam Call dan Praktik Pemasaran Digital
Banyak aplikasi dan layanan digital meminta akses nomor telepon atau daftar kontak tanpa alasan yang jelas. Data tersebut kemudian dibagikan kepada pihak ketiga untuk kepentingan pemasaran.
“Sebagian dilakukan secara legal melalui persetujuan pengguna yang panjang dan jarang dibaca, tapi ada juga yang terjadi akibat penyalahgunaan internal,” kata Pratama.
Dalam kondisi ini, spam call dapat terjadi meski tidak ada peretasan, karena data memang sudah diserahkan pengguna tanpa perlindungan yang memadai.
Dari sisi teknis, pelaku spam memanfaatkan teknologi autodialer dan voice over IP yang memungkinkan ribuan panggilan dilakukan dalam waktu singkat dengan biaya rendah. Nomor yang digunakan pun sering bersifat sementara atau dipalsukan, sehingga sulit dilacak.
Bahkan, ada pula spam call yang dilakukan secara acak dengan menebak pola nomor aktif, terutama di negara dengan sistem penomoran yang mudah diprediksi.
“Dalam skema ini, seseorang bisa menerima spam call meskipun nomornya belum pernah bocor atau digunakan di layanan digital tertentu,” ujar Pratama.
Langkah Mengurangi Gangguan Spam Call
Menurut Pratama, penanganan spam call harus dilakukan secara berlapis dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengguna, penyedia layanan digital, operator telekomunikasi, hingga regulator.
Di tingkat individu, kesadaran digital menjadi kunci. Pengguna disarankan lebih selektif membagikan nomor telepon, memisahkan nomor pribadi dan publik, serta menolak izin akses kontak bagi aplikasi yang tidak relevan.
“Mengaktifkan fitur pemblokiran nomor tak dikenal atau menggunakan aplikasi penyaring spam juga cukup membantu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya tidak merespons panggilan spam.
“Menjawab atau menekan tombol justru memberi sinyal bahwa nomor tersebut aktif dan berpotensi terus ditargetkan. Cara paling aman adalah mengabaikan dan memblokir,” tegasnya.
Aplikasi pihak ketiga seperti Truecaller atau GetContact dapat menjadi opsi tambahan karena memanfaatkan laporan komunitas untuk mengidentifikasi nomor spam secara otomatis.
Sementara itu, operator telekomunikasi dinilai memiliki peran strategis karena mampu mendeteksi pola panggilan mencurigakan di tingkat jaringan.
“Pemblokiran oleh operator jauh lebih efektif karena mencegah spam sebelum sampai ke pengguna,” kata Pratama.
Namun, keberhasilan langkah tersebut sangat bergantung pada komitmen operator serta dukungan regulasi yang tegas.
Dari sisi kebijakan, maraknya spam call menunjukkan masih lemahnya perlindungan data pribadi dan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan data.
“Tanpa sanksi yang jelas dan konsisten, kebocoran data akan terus berulang, dan spam call hanya menjadi dampak yang paling terasa oleh masyarakat,” pungkas Pratama.