Jakarta – TNI Angkatan Laut (TNI AL) mencatat tonggak baru dalam sejarah pertahanan maritim Indonesia dengan hadirnya KRI Sriwijaya-100. Kapal tersebut sebelumnya merupakan kapal induk milik Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi, sebelum kemudian menjadi bagian dari armada pertahanan Indonesia.
KRI Sriwijaya-100 kini bersandar di Tanjung Priok, Jakarta Utara, setelah menempuh perjalanan selama 24 hari dari Italia. Kehadirannya menjadi bagian baru dalam pengembangan kemampuan operasi laut Indonesia.
Jurnalis Metro TV, Adi Prihadi, berkesempatan melihat langsung bagian dalam kapal tersebut bersama Padiv MB KRI Sriwijaya-100, Letda Laut (T) Muhammad Pramono Mukti.
Memiliki 12 Tingkat Dek
Penelusuran interior kapal dimulai dari lorong-lorong di dek 6. Secara keseluruhan, KRI Sriwijaya-100 memiliki 12 tingkat dek yang masing-masing dirancang untuk fungsi berbeda.
Pramono menjelaskan, dek 1 digunakan sebagai area tangki, sedangkan dek 2 diperuntukkan bagi berbagai peralatan pendukung pesawat. Dek 3 dan 4 digunakan sebagai ruang bagi bintara, tamtama, serta perwira.
Sementara itu, dek 5 berfungsi sebagai safety deck. Area penting lainnya berada di dek 7 yang menjadi flight deck atau geladak penerbangan.
“Dek 1 itu tangki-tangki, dek 2 untuk alat pendukung pesawat, dek 3 dan 4 untuk ruang bintara, tamtama, dan perwira. Dek 5 adalah safety deck, lalu dek 7 ada flight deck yang mampu menampung helikopter serta pesawat dengan kemampuan Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL) atau vertical launch,” jelas Pramono, dikutip dari Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Minggu (27/9/2026).
Kapal tersebut juga dilengkapi lift khusus dengan kapasitas maksimal empat orang. Fasilitas ini digunakan untuk membantu mobilitas tamu VIP maupun pejabat, terutama mengingat banyaknya tangga curam di dalam kapal.
Interior Masih dalam Tahap Penyesuaian
Sebagai kapal yang baru tiba di Indonesia, sejumlah bagian interior KRI Sriwijaya-100 masih menjalani proses penyesuaian.
Salah satunya terlihat dari marka dan petunjuk arah di sejumlah lorong yang masih menggunakan bahasa Italia. Beberapa tulisan yang masih ditemukan antara lain Uscita yang berarti keluar, Al punto di raccolta untuk menunjukkan titik kumpul, serta Navigazione porto yang berkaitan dengan navigasi pelabuhan.
Penamaan dan petunjuk tersebut nantinya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk mendukung kelancaran operasional prajurit TNI AL.
Memiliki Admiral’s Lounge
Tur kemudian berlanjut menuju area Admiral’s Lounge. Ruangan VIP tersebut dilengkapi pendingin udara dan digunakan sebagai ruang bagi pejabat tinggi negara maupun petinggi militer.
Ruangan ini juga dapat berfungsi sebagai ruang komando atau markas kapal ketika pejabat terkait memantau kegiatan taktis, termasuk dalam pelaksanaan sailing pass.
Komandan KRI Sriwijaya-100, Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan, mengatakan kehadiran kapal tersebut membuka kemampuan baru bagi TNI AL dalam menjalankan operasi udara dari tengah laut.
Menurut Fuad, KRI Sriwijaya-100 menjadi kapal pertama dalam sejarah Indonesia yang mampu membawa dan mengendalikan pesawat untuk mendukung operasi udara dari laut.
Tak Hanya untuk Operasi Militer
Selain menjalankan fungsi sebagai kapal induk militer, KRI Sriwijaya-100 juga disiapkan untuk menjalankan misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Fuad mengatakan kemampuan tersebut menjadi penting karena wilayah Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Karena itu, kapal ini juga diharapkan dapat digunakan untuk mendukung misi bantuan kepada masyarakat ketika terjadi bencana.
“Wilayah Indonesia ini sangat rentan terjadi bencana. Arahan dari pimpinan adalah kita harus senantiasa siap melaksanakan misi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Ini sejarah baru bagi bangsa Indonesia dan menjadi suatu kebanggaan,” ujar Fuad.
Dengan kemampuan dan fasilitas yang dimilikinya, KRI Sriwijaya-100 menjadi bagian dari perkembangan baru kekuatan maritim Indonesia sekaligus memperluas kemampuan TNI AL dalam menjalankan operasi di wilayah laut.