Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan terus memantau temuan 11 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan disebut sebagai ‘super flu’. Pemantauan dilakukan melalui surveilans di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim menjelaskan, angka 11 kasus tersebut mengacu pada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 19 September 2026. Ia menegaskan angka tersebut merupakan akumulasi kasus sejak Januari 2026, bukan peningkatan kasus yang terjadi hanya dalam sepekan terakhir.
“Secara nasional Kemenkes masih mengkategorikan aktivitas influenza rendah dan sesuai pola musiman. Subclade K bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman yang bermutasi,” kata Chico kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Pemprov DKI Perkuat Pemantauan
Sebagai langkah antisipasi penyebaran influenza, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjalankan surveilans sentinel untuk memantau penyakit dengan gejala seperti influenza atau Influenza-Like Illness (ILI) serta Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
Pemantauan tersebut dilakukan di lima puskesmas yang mewakili masing-masing kota administrasi di Jakarta serta satu rumah sakit rujukan. Data dari fasilitas kesehatan tersebut terhubung dengan sistem nasional dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Yang sudah dan terus dilakukan Pemprov DKI, Dinas Kesehatan menjalankan surveilans sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di lima puskesmas tiap kota administrasi plus satu rumah sakit rujukan, terhubung dengan sistem nasional dan WHO agar kenaikan kasus terdeteksi lebih awal,” jelasnya.
Selain melakukan pemantauan, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta juga telah diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala influenza. Penanganan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia turut diperkuat.
Chico menyebut sejumlah kelompok masyarakat perlu mendapat perhatian lebih, yakni anak usia dini, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta.
Vaksin Influenza Masih Berbayar
Pemprov DKI juga menyampaikan bahwa vaksin influenza tersedia di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit umum daerah (RSUD).
Namun, vaksin influenza saat ini belum termasuk dalam program imunisasi pemerintah sehingga masyarakat yang ingin mendapatkannya masih harus membayar secara mandiri.
“Vaksin influenza tersedia di faskes termasuk RSUD. Belum masuk vaksin program, jadi masih berbayar, tetapi Kemenkes menegaskan imunisasi influenza tetap bermanfaat menurunkan penularan dan keparahan. Tidak ada bukti subclade K kebal terhadap vaksin influenza yang beredar,” ujar Chico.
Warga Diminta Tetap Waspada
Di tengah temuan kasus tersebut, Pemprov DKI mengimbau masyarakat tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan tanpa perlu panik.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain rajin mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker ketika sedang sakit, menerapkan etika batuk, beristirahat dengan cukup, serta memastikan kebutuhan makanan dan cairan tubuh tetap terpenuhi.
Orang tua juga diminta tidak membawa anak yang sedang sakit ke sekolah hingga kondisinya pulih.
“Anak yang sakit jangan dibawa ke sekolah sampai pulih. Segera ke faskes jika keluhan berlanjut, apalagi muncul napas cepat, tarikan dinding dada, atau saturasi oksigen di bawah 92 persen,” kata Chico.
Ia menegaskan Pemprov DKI tidak mengabaikan temuan 11 kasus tersebut. Namun, masyarakat juga diminta tidak bereaksi berlebihan karena situasi terus dipantau melalui sistem surveilans dan kesiapan fasilitas kesehatan.
“Pemprov DKI tidak menyepelekan 11 kasus itu, tapi juga tidak ingin masyarakat panik. Situasinya dikawal lewat surveilans, faskes yang siaga, dan pencegahan di tingkat keluarga. Kalau ada update teknis dari Dinkes, kami sampaikan,” imbuhnya.
Sebaran Kasus Subclade K di 13 Provinsi
Berdasarkan data kumulatif sejak Januari 2026, kasus influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi di Indonesia.
Berikut sebarannya:
- Jawa Timur: 18 kasus
- Kalimantan Selatan: 18 kasus
- Jawa Barat: 12 kasus
- DKI Jakarta: 11 kasus
- Sumatera Selatan: 5 kasus
- Sumatera Utara: 3 kasus
- Bali: 2 kasus
- Nusa Tenggara Timur: 2 kasus
- Nusa Tenggara Barat: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
- Jawa Tengah: 1 kasus
- Sulawesi Selatan: 1 kasus
- DI Yogyakarta: 1 kasus
Data tersebut merupakan jumlah kumulatif sejak Januari 2026, sehingga tidak secara langsung menggambarkan lonjakan kasus dalam satu pekan terakhir.