Jakarta – Delapan jenazah korban banjir bandang di Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dijadwalkan dimakamkan siang ini. Puskesmas Batangtoru menyatakan kondisi seluruh jenazah telah rusak parah sehingga tidak memungkinkan untuk diidentifikasi.
“Kedelapan jenazah sudah dalam kondisi membusuk dan tidak bisa dikenali. Ada yang tanpa kepala, ada yang matanya sudah tidak ada,” kata Kepala Puskesmas Batangtoru, Elida Handriani Batubara, kepada Tempo pada Ahad, 30 November 2025.
Jenazah-jenazah tersebut ditemukan pada Selasa hingga Rabu pekan lalu, setelah banjir bandang menerjang tiga desa di Batangtoru. Selama empat hingga lima hari, jenazah disimpan di Puskesmas sambil menunggu kemungkinan adanya keluarga yang melapor kehilangan sekaligus menunggu kondisi memungkinkan untuk pemakaman yang layak.
Hingga hari ini, tidak ada warga yang mengaku kehilangan anggota keluarga meski banyak yang datang untuk memastikan identitas. “Tadi malam, forum pimpinan kecamatan memutuskan jenazah dimakamkan siang ini,” ujar Elida.
Pemakaman Massal dan Dugaan Banyak Korban Belum Ditemukan
Pemakaman akan dilakukan di area perkebunan PTPN III Batangtoru, yang telah ditetapkan sebagai lokasi kuburan massal bagi korban banjir dan longsor di wilayah tersebut. Elida menuturkan bahwa kemungkinan jumlah korban masih jauh lebih besar.
“Informasi dari forum pimpinan kecamatan menyebutkan diperkirakan ratusan orang masih hilang. Namun kami berharap mereka selamat,” ucapnya.
Kritik Warga Soal Minimnya Perhatian Pemerintah
Seorang warga Batangtoru, Azis Hasibuan, menyampaikan bahwa perhatian pemerintah daerah terhadap korban di wilayahnya sangat terbatas. Ia menilai fokus Pemerintah Provinsi Sumatera Utara lebih tertuju pada penanganan di Tapanuli Tengah.
“Gubernur Sumut Bobby Nasution hanya fokus di Tapanuli Tengah. Padahal kerusakan di tiga desa Batangtoru—Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol—benar-benar parah,” kata Azis.