Beranda BISNIS Seskab Teddy Ungkap Tiga Alasan Kenaikan Harga Pertamax, Sebut Dipengaruhi Harga Minyak Dunia
BISNIS

Seskab Teddy Ungkap Tiga Alasan Kenaikan Harga Pertamax, Sebut Dipengaruhi Harga Minyak Dunia

Seskab Teddy Ungkap Tiga Alasan Kenaikan Harga Pertamax, Sebut Dipengaruhi Harga Minyak Dunia.
Seskab Teddy Ungkap Tiga Alasan Kenaikan Harga Pertamax, Sebut Dipengaruhi Harga Minyak Dunia.
Bagikan

Jakarta – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax (RON 92). Melalui unggahan di akun media sosial Sekretariat Kabinet pada 12 Juni 2026, Teddy menyampaikan bahwa penyesuaian harga Pertamax dilakukan karena mengikuti dinamika harga minyak mentah di pasar internasional.

Menurutnya, kebijakan tersebut berbeda dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang harganya tetap dipertahankan pemerintah.

Pertamax Merupakan BBM Non-Subsidi

Dalam penjelasannya, Teddy menegaskan bahwa Pertamax merupakan produk BBM non-subsidi sehingga harga jualnya tidak ditetapkan secara tetap oleh pemerintah.

Sebagai produk non-subsidi, harga Pertamax harus menyesuaikan dengan perkembangan harga minyak dunia serta berbagai komponen biaya lainnya yang memengaruhi harga jual.

Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Hingga saat ini, harga Pertalite tetap berada di Rp10.000 per liter, sedangkan Solar bersubsidi masih dijual seharga Rp6.800 per liter.

Pemerintah Mengaku Sempat Menahan Kenaikan

Alasan kedua yang disampaikan Teddy adalah kenaikan harga minyak dunia yang telah berlangsung sejak Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa meskipun harga minyak mentah internasional mengalami lonjakan cukup signifikan, pemerintah tidak langsung melakukan penyesuaian harga Pertamax.

Menurut Teddy, pemerintah memilih menahan kenaikan selama beberapa bulan sebelum akhirnya melakukan penyesuaian harga sebagai respons terhadap kondisi pasar energi global.

Harga Pertamax Disebut Masih Lebih Kompetitif

Teddy juga menyebut harga Pertamax masih relatif lebih rendah dibandingkan harga BBM dengan kualitas setara di sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data yang dikutip dari Petrol Price dan Gas Watch, harga BBM RON 92/95 di Indonesia tercatat sekitar Rp16.260 per liter.

Sebagai perbandingan, harga BBM dengan spesifikasi serupa di beberapa negara lain berada pada kisaran:

  • Filipina: sekitar Rp22.158 per liter
  • Thailand: sekitar Rp28.910 per liter
  • Laos: sekitar Rp31.945 per liter
  • Myanmar: sekitar Rp25.085 per liter
  • Singapura: sekitar Rp42.971 per liter

Perbandingan tersebut digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa harga Pertamax masih tergolong lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

Harga Minyak Dunia Mulai Terkoreksi

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia mulai mengalami penurunan pada perdagangan 12 Juni 2026 setelah sebelumnya sempat melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik langsung antara Amerika Serikat dan Iran membuat premi risiko yang sebelumnya mendorong kenaikan harga minyak mulai berkurang.

Harga minyak Brent tercatat berada di kisaran US$89,41 per barel, turun sekitar 1 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level sekitar US$86,83 per barel.

Meski demikian, jika dibandingkan dengan harga pada Februari 2026, harga minyak internasional masih berada pada level yang jauh lebih tinggi. Pada pertengahan Februari, Brent diperdagangkan di kisaran US$69 per barel, sedangkan WTI berada di sekitar US$63 per barel.

Penyesuaian Harga Mengikuti Kondisi Global

Pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax merupakan konsekuensi dari statusnya sebagai BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar.

Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi agar daya beli masyarakat tetap terjaga, khususnya bagi kelompok yang bergantung pada Pertalite dan Solar dalam aktivitas sehari-hari.

Melalui penjelasan tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat memahami bahwa perubahan harga Pertamax dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia, sementara perlindungan terhadap pengguna BBM bersubsidi tetap menjadi salah satu prioritas kebijakan energi nasional.

Bagikan
Berita Terkait

10 Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS

Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sering kali...

Eks Dirut BRI Ventures Nicko Widjaja Surati Presiden Prabowo Usai Divonis dalam Kasus Investasi TaniHub

Jakarta – Mantan Direktur Utama BRI Ventures, Nicko Widjaja, menyampaikan surat terbuka kepada...

Pelemahan Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Akademisi Soroti Pentingnya Komunikasi Pemerintah

Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp18.000 per dolar Amerika...

Libur Panjang Dimulai, Hampir 200 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

Jakarta – Arus lalu lintas keluar wilayah Jabotabek mengalami lonjakan signifikan menjelang...