Beranda BISNIS 10 Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS
BISNIS

10 Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS

10 Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS.
10 Saham yang Berpotensi Diuntungkan Saat Rupiah Melemah terhadap Dolar AS.
Bagikan

Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sering kali memicu kekhawatiran di kalangan investor. Namun, di balik kondisi tersebut terdapat sejumlah emiten yang justru berpotensi memperoleh keuntungan karena struktur bisnisnya lebih banyak menghasilkan pendapatan dalam mata uang dolar.

Perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS tetapi menanggung sebagian besar biaya operasional dalam rupiah biasanya menikmati peningkatan nilai pendapatan setelah dikonversi ke rupiah. Sebaliknya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku atau komponen impor cenderung menghadapi kenaikan biaya produksi ketika rupiah melemah.

Mengapa Ada Saham yang Diuntungkan Saat Rupiah Terdepresiasi?

Secara umum, terdapat dua karakteristik emiten yang memberikan dampak berbeda terhadap pergerakan nilai tukar.

Kelompok pertama adalah dolar-earner, yakni perusahaan yang memperoleh mayoritas pendapatannya dalam dolar AS sementara biaya operasionalnya menggunakan rupiah. Kondisi ini membuat margin keuntungan berpotensi meningkat ketika kurs dolar menguat.

Sebaliknya, perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam rupiah tetapi harus mengimpor bahan baku atau memiliki kewajiban dalam dolar justru menghadapi tekanan karena biaya operasional menjadi lebih mahal.

Sektor yang umumnya masuk kategori dolar-earner meliputi pertambangan batu bara, minyak sawit (CPO), nikel, minyak dan gas, hingga industri pulp dan kertas.

Faktor yang Perlu Diperhatikan Investor

Meski pelemahan rupiah dapat menjadi sentimen positif bagi emiten berorientasi ekspor, kondisi tersebut bukan satu-satunya faktor penentu kenaikan harga saham.

Investor juga perlu memperhatikan beberapa aspek berikut:

  • Pergerakan harga komoditas dunia seperti batu bara, nikel, maupun CPO.
  • Kebijakan pemerintah terkait ekspor, termasuk skema ekspor satu pintu.
  • Besarnya utang perusahaan dalam mata uang dolar.
  • Kebijakan produksi dan kuota yang memengaruhi volume penjualan.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, investor dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh sebelum mengambil keputusan investasi.

Sektor yang Berpotensi Mendapat Manfaat dari Rupiah Melemah

1. Pertambangan Batu Bara

Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Sebagian besar transaksi ekspor dilakukan menggunakan dolar AS, sedangkan biaya operasional masih didominasi rupiah.

Kondisi tersebut membuat perusahaan batu bara berpotensi menikmati peningkatan pendapatan ketika nilai tukar rupiah melemah.

Namun demikian, investor tetap perlu mencermati kebijakan ekspor satu pintu yang sedang dipersiapkan pemerintah karena dapat memengaruhi fleksibilitas bisnis emiten di sektor ini.

2. Industri Minyak Sawit (CPO)

Produsen minyak sawit juga memperoleh keuntungan serupa karena harga CPO di pasar internasional menggunakan dolar AS.

Selama biaya operasional tetap didominasi rupiah, pelemahan kurs dapat meningkatkan nilai pendapatan perusahaan ketika dikonversikan ke mata uang domestik.

Meski demikian, sektor ini masih menghadapi tantangan berupa perubahan regulasi ekspor serta dinamika permintaan dari negara-negara pengimpor.

3. Tambang Nikel dan Logam Dasar

Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen nikel terbesar dunia.

Permintaan global terhadap bahan baku kendaraan listrik terus meningkat sehingga emiten nikel memiliki peluang memperoleh keuntungan ganda, yakni dari kenaikan nilai dolar maupun pertumbuhan permintaan pasar.

Meski begitu, harga nikel global terkenal sangat fluktuatif sehingga tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

4. Minyak dan Gas

Perusahaan migas yang memiliki kontrak penjualan dalam dolar relatif lebih terlindungi dari pelemahan rupiah.

Apalagi jika kenaikan kurs terjadi bersamaan dengan naiknya harga minyak dunia akibat faktor geopolitik, maka potensi peningkatan pendapatan menjadi semakin besar.

5. Industri Pulp dan Kertas

Sektor pulp dan kertas sering kali luput dari perhatian investor.

Padahal, perusahaan-perusahaan di sektor ini merupakan eksportir besar dengan transaksi berbasis dolar, sementara sebagian besar biaya produksi masih menggunakan rupiah sehingga margin keuntungan dapat meningkat ketika nilai tukar melemah.

Daftar Saham yang Banyak Dilirik Saat Dolar Menguat

Berikut sejumlah saham yang kerap menjadi perhatian investor ketika rupiah mengalami depresiasi.

1. ADRO (Alamtri Resources Indonesia)

Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di Indonesia, ADRO memperoleh sebagian besar pendapatannya dalam dolar AS.

Selain bisnis batu bara, perusahaan juga tengah mengembangkan proyek smelter aluminium yang dinilai memiliki prospek jangka panjang.

2. PTBA (Bukit Asam)

PTBA merupakan emiten BUMN yang dinilai memiliki posisi strategis dalam kebijakan ekspor pemerintah.

Perusahaan terus meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

3. ITMG (Indo Tambangraya Megah)

ITMG dikenal sebagai produsen batu bara berkualitas tinggi dengan pasar ekspor yang luas.

Pendapatan berbasis dolar menjadikan perusahaan ini termasuk salah satu emiten yang diuntungkan ketika rupiah melemah.

4. ANTM (Aneka Tambang)

ANTM memiliki portofolio bisnis pada komoditas nikel dan emas.

Kombinasi kedua komoditas tersebut memberikan peluang pertumbuhan ketika harga emas maupun nilai tukar dolar mengalami kenaikan.

5. INCO (Vale Indonesia)

Sebagian besar produksi nikel matte Vale Indonesia dipasarkan ke luar negeri dengan transaksi menggunakan dolar AS.

Kinerja perusahaan juga sangat dipengaruhi perkembangan harga nikel global.

6. MEDC (Medco Energi)

Medco Energi memiliki kontrak penjualan minyak dan gas dalam mata uang dolar sehingga pendapatannya relatif terlindungi dari fluktuasi rupiah.

Kinerja perusahaan juga berpotensi terdorong apabila harga minyak dunia meningkat.

7. PGAS (Perusahaan Gas Negara)

PGAS memperoleh sebagian pendapatan dalam valuta asing serta memiliki bisnis domestik yang kuat.

Kombinasi tersebut menjadikan perusahaan tetap menarik untuk dipantau ketika kurs rupiah melemah.

8. UNTR (United Tractors)

Selain sebagai distributor alat berat, United Tractors juga memiliki bisnis pertambangan.

Ketika sektor tambang memperoleh keuntungan akibat kenaikan nilai dolar, aktivitas bisnis UNTR juga berpotensi ikut terdorong.

9. INKP (Indah Kiat Pulp & Paper)

Sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Asia, INKP memperoleh pendapatan ekspor dalam dolar sementara biaya operasional mayoritas menggunakan rupiah.

Karakteristik tersebut membuat perusahaan berpotensi menikmati peningkatan margin ketika rupiah terdepresiasi.

10. Emiten Perkebunan Sawit

Selain saham-saham di atas, perusahaan perkebunan sawit dengan orientasi ekspor juga layak diperhatikan.

Harga jual CPO menggunakan dolar AS sehingga pelemahan rupiah dapat memberikan tambahan keuntungan, selama harga komoditas global tetap mendukung.

Tidak Semua Kondisi Menguntungkan

Investor tetap perlu berhati-hati apabila pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan penurunan harga komoditas dunia.

Dalam kondisi seperti itu, keuntungan akibat selisih kurs dapat berkurang bahkan tertutupi oleh turunnya harga jual komoditas.

Perusahaan dengan biaya produksi rendah biasanya memiliki daya tahan yang lebih baik menghadapi situasi tersebut.

Saham yang Perlu Diwaspadai

Sebaliknya, beberapa sektor justru berpotensi menghadapi tekanan ketika rupiah melemah, antara lain:

  • Emiten farmasi yang masih bergantung pada bahan baku impor.
  • Perusahaan ritel dengan produk impor yang dominan.
  • Emiten yang memiliki utang besar dalam mata uang dolar.
  • Sektor properti yang umumnya sensitif terhadap perlambatan ekonomi.

Kesimpulan

Pelemahan rupiah tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar modal. Sejumlah emiten berorientasi ekspor justru memiliki peluang meningkatkan kinerja karena memperoleh pendapatan dalam dolar AS.

Meski demikian, keputusan investasi tidak sebaiknya hanya didasarkan pada pergerakan kurs. Investor tetap perlu mempertimbangkan harga komoditas global, kondisi fundamental perusahaan, tingkat utang, hingga kebijakan pemerintah agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan terukur.

Bagikan
Berita Terkait

Eks Dirut BRI Ventures Nicko Widjaja Surati Presiden Prabowo Usai Divonis dalam Kasus Investasi TaniHub

Jakarta – Mantan Direktur Utama BRI Ventures, Nicko Widjaja, menyampaikan surat terbuka kepada...

Seskab Teddy Ungkap Tiga Alasan Kenaikan Harga Pertamax, Sebut Dipengaruhi Harga Minyak Dunia

Jakarta – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan alasan di balik kenaikan harga bahan...

Pelemahan Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Akademisi Soroti Pentingnya Komunikasi Pemerintah

Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp18.000 per dolar Amerika...

Libur Panjang Dimulai, Hampir 200 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

Jakarta – Arus lalu lintas keluar wilayah Jabotabek mengalami lonjakan signifikan menjelang...