Tepat sepekan setelah meninggal dunia, jenazah Pandu Brata Siregar (18 tahun), pelajar SMA asal Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, diekshumasi pada Minggu (16/3). Ekshumasi ini dilakukan untuk mengungkap dugaan penyebab kematian Pandu, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh anggota polisi. Pandu meninggal pada Minggu (9/3) setelah sebelumnya mengalami insiden yang mencurigakan.
Proses ekshumasi dilaksanakan di pemakaman Desa Parlakit Tangan, Ujung Padang, Kabupaten Simalungun. Keluarga Pandu menginginkan proses ini dilakukan secara transparan agar dugaan penganiayaan yang menimpa Pandu dapat terungkap dengan jelas. “Harapan keluarga, hasil ini terbongkar jangan ada yang disembunyikan,” ujar Ragil Siregar, salah satu anggota keluarga korban.
Pandu Brata Siregar adalah seorang anak yatim piatu yang dikenal sebagai sosok pendiam dan gemar berolahraga. Menurut Ragil, Pandu memiliki cita-cita untuk menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk mewujudkan mimpinya, dia aktif mempersiapkan diri secara fisik guna mendaftar ke institusi militer tersebut. Kematiannya yang mendadak dan penuh tanda tanya ini membuat keluarga dan masyarakat sekitar menuntut keadilan.
Proses ekshumasi berlangsung selama empat jam dan melibatkan tim dokter forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara TK II Medan, dipimpin oleh dr. Ismurizal SpF. Dalam pemeriksaan awal, tim menemukan beberapa keganjilan pada jenazah Pandu, termasuk adanya bercak merah yang mencurigakan. Namun, dr. Ismurizal menegaskan bahwa tim masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian yang sebenarnya.
Untuk memastikan objektivitas dan transparansi, keluarga Pandu juga menghadirkan dokter independen untuk mengawasi proses ekshumasi. “Kami menghadirkan dokter independen ini sebagai pembanding dari dokter yang kita hadirkan dan juga dari dokter yang dihadirkan pihak kepolisian,” jelas Chrisye Sitorus, pengacara keluarga korban. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa hasil ekshumasi tidak dimanipulasi dan dapat dipercaya.
Kasus ini telah menarik perhatian publik dan memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mereka menyerukan agar proses hukum berjalan secara adil dan transparan, tanpa ada upaya untuk menutupi fakta-fakta yang sebenarnya. Masyarakat juga meminta agar pihak kepolisian bertanggung jawab penuh jika terbukti ada keterlibatan anggota polisi dalam kematian Pandu.
Sementara itu, pihak kepolisian setempat menyatakan akan berkoordinasi dengan tim forensik dan keluarga korban untuk memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Mereka juga mengklaim akan bersikap transparan dalam menyelesaikan kasus ini.
Kematian Pandu Brata Siregar bukan hanya menjadi duka bagi keluarganya, tetapi juga menjadi sorotan nasional. Kasus ini mengingatkan kembali pada pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam penegakan hukum, terutama ketika melibatkan aparat penegak hukum. Keluarga Pandu dan masyarakat berharap bahwa hasil ekshumasi dan investigasi lanjutan akan membawa keadilan bagi Pandu dan mengungkap kebenaran di balik kematiannya.
Dengan demikian, kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap insiden yang melibatkan aparat negara harus diselesaikan dengan cara yang adil dan transparan, agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum tetap terjaga.