Jakarta – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum Indonesian Democratic Party of Struggle, Megawati Soekarnoputri, mengaku terharu hingga menangis setelah menyaksikan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam forum National Policy Dialogue bertema kedaulatan kelautan yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada.
Menurut Megawati, isi dokumenter tersebut menggambarkan realitas yang benar-benar terjadi di lapangan, terutama terkait persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat adat.
Ia menyoroti semakin luasnya alih fungsi hutan menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit di berbagai wilayah Indonesia. Megawati menilai pembangunan tidak boleh mengabaikan keberadaan hukum adat, tradisi, dan hak masyarakat lokal yang telah lama hidup di wilayah tersebut.
Dalam pandangannya, masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan ruang hidup dan nilai budaya mereka. Karena itu, negara dinilai perlu menghormati hukum wilayah dan tradisi yang telah dijaga turun-temurun.
Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru pada 2026. Film tersebut menyoroti kehidupan masyarakat adat di Papua, termasuk dampak proyek strategis nasional terhadap lingkungan dan hak atas tanah adat.
Belakangan, film ini juga menjadi perhatian publik karena sejumlah kegiatan nonton bareng dan diskusi dilaporkan mengalami pembubaran di beberapa daerah. Beberapa di antaranya terjadi di lingkungan kampus maupun ruang publik.
Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra menyatakan pemerintah tidak melarang masyarakat untuk menonton ataupun mendiskusikan film tersebut. Ia menilai publik seharusnya diberi ruang untuk melihat dan membahas isi dokumenter secara terbuka meskipun terdapat narasi yang dianggap kontroversial.
Menurut Yusril, kritik yang disampaikan melalui film dokumenter merupakan bagian dari dinamika demokrasi selama masih berada dalam batas yang wajar.