Beranda NEWS Selat Hormuz Ditutup, Perekonomian Dunia Terancam?
NEWS

Selat Hormuz Ditutup, Perekonomian Dunia Terancam?

Selat Hormuz Ditutup, Perekonomian Dunia Terancam?
Selat Hormuz Ditutup, Perekonomian Dunia Terancam?
Bagikan

Jakarta – Menyusul kabar wafatnya Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, Iran berupaya menekan komunitas internasional agar mendorong penghentian perang dengan Amerika Serikat dan Israel melalui tekanan ekonomi.

Pada 2 Maret 2026, Komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa pihaknya akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

“Selat telah ditutup. Jika ada yang mencoba menyeberang, para pejuang dari Garda Revolusi dan angkatan laut kami akan membakar kapal-kapal tersebut,” ujar penasihat senior kepala staf IRGC, Ebrahim Jabari.

Para analis ekonomi sebelumnya telah memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat memicu dampak sistemik terhadap perekonomian global dan memperparah krisis energi dunia di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Lantas, apa sebenarnya peran Selat Hormuz dan bagaimana dampaknya bagi dunia?

Apa Itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menjadi pintu utama keluar-masuk dari Teluk Persia menuju Teluk Oman dan perairan internasional. Pada titik tersempitnya, selat ini hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer dan berada di antara wilayah Iran di utara serta Oman di selatan.

Secara geografis dan ekonomi, Selat Hormuz merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia.

Data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa pada 2024 aliran minyak yang melewati selat ini mencapai sekitar 20 juta barel per hari, atau sekitar 20 persen dari total konsumsi cairan minyak bumi global.

Kapal-kapal tanker yang melintasi jalur ini membawa minyak dan gas dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta Iran.

Sebagian besar energi yang melewati jalur ini ditujukan ke pasar Asia. Pada 2024, sekitar 84 persen minyak mentah dan kondensat serta 83 persen gas alam cair yang melewati Hormuz dikirim ke kawasan Asia.

Negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama, dengan total sekitar 69 persen dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat yang melewati selat tersebut.

Karena itu, negara-negara Asia diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak jika terjadi gangguan serius di Selat Hormuz.

Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Dunia

Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Teluk, tetapi juga akan merambat ke seluruh sistem energi dan ekonomi global dalam waktu singkat.

Selat ini dikenal sebagai salah satu chokepoint terpenting di dunia, yaitu titik sempit dalam jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan energi global.

Ketika aliran minyak melalui jalur ini terganggu, bahkan untuk waktu singkat, dampaknya dapat berupa keterlambatan pasokan besar-besaran, peningkatan biaya pengiriman, hingga lonjakan harga energi dunia.

Selain itu, penutupan selat juga dapat memicu kenaikan premi asuransi kapal tanker, meningkatnya biaya logistik, serta ketidakpastian pasokan bagi negara-negara pengimpor energi.

Masalahnya, sebagian besar volume minyak yang melewati Hormuz tidak memiliki jalur alternatif yang memadai. Walaupun terdapat beberapa jaringan pipa yang dapat menghindari selat tersebut, kapasitasnya sangat terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume perdagangan yang hilang.

Sensitivitas pasar terhadap risiko gangguan di kawasan ini sebenarnya sudah terlihat sebelumnya. Saat konflik Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025, harga minyak jenis Brent sempat melonjak dari sekitar 69 dolar AS per barel menjadi 74 dolar AS hanya dalam satu hari.

Artinya, bahkan ancaman gangguan saja sudah cukup membuat pasar bereaksi. Jika penutupan Selat Hormuz benar-benar terjadi, lonjakan harga energi diperkirakan akan jauh lebih tajam.

Menurut manajer portofolio senior di Neuberger Berman, Hakan Kaya, dampak dari situasi ini sangat besar dan tidak bisa dianggap remeh.

Ia menjelaskan bahwa perlambatan pasokan selama satu hingga dua minggu mungkin masih dapat ditopang oleh cadangan strategis perusahaan minyak. Namun, jika penutupan berlangsung selama satu bulan atau lebih, harga minyak mentah yang saat ini berada di kisaran 70 dolar AS per barel bisa melonjak hingga menembus angka tiga digit.

Situasi tersebut berpotensi memicu krisis energi global, meningkatkan inflasi di berbagai negara, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Bagikan
Berita Terkait

Dampak Serangan Iran, Kilang Minyak Aramco Hentikan Operasi

Jakarta – Operasi kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco di Arab...

Breaking News: Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno Tutup Usia

Jakarta – Mantan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, dikabarkan meninggal...

Citra Satelit Tunjukkan Kerusakan di Kediaman Ali Khamenei

Jakarta – Citra satelit memperlihatkan kerusakan signifikan pada kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi...

Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei Tewas Usai Serangan AS-Israel

Jakarta – Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia setelah serangan...