Jakarta – Malam 27 Rajab selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Pada malam inilah terjadi peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan spiritual luar biasa yang melampaui batas ruang dan waktu. Dalam satu malam, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Makkah ke Palestina, lalu naik menembus tujuh lapis langit untuk menerima perintah salat langsung dari Allah SWT.
Perjalanan ini bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan misi ilahiah yang sarat makna. Isra Mi’raj menjadi momentum ditetapkannya salat lima waktu—ibadah utama yang menjadi penghubung antara hamba dan Tuhannya.
Untuk memperdalam perenungan di malam penuh berkah ini, berikut rangkaian perjalanan Isra Mi’raj beserta pertemuan Rasulullah SAW di setiap tahapannya.
Tahap Pertama: Isra (Perjalanan di Bumi)
Rute: Masjidil Haram (Makkah) → Masjidil Aqsa (Palestina)
Perjalanan dimulai dari Masjidil Haram dengan kendaraan istimewa bernama Buraq, yang dibawa oleh Malaikat Jibril. Dalam perjalanan menuju Palestina, Rasulullah SAW singgah di beberapa tempat penting dan menunaikan salat dua rakaat di masing-masing lokasi, sebagai penanda sejarah kenabian.
Tempat-tempat persinggahan tersebut antara lain:
- Madinah, kota yang kelak menjadi tempat hijrah dan pusat peradaban Islam.
- Madyan, lokasi Nabi Musa AS pernah berlindung dari kejaran Fir’aun.
- Bukit Thuur Sina, tempat Nabi Musa AS menerima wahyu langsung dari Allah.
- Baitul Lahm (Betlehem), daerah kelahiran Nabi Isa AS.
Setibanya di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW memimpin salat berjamaah para nabi terdahulu, menegaskan kedudukannya sebagai penutup para rasul. Di tempat ini pula, Malaikat Jibril menyodorkan dua minuman—susu dan khamar. Pilihan Rasulullah pada susu menjadi simbol kesucian fitrah umat Islam.
Tahap Kedua: Mi’raj (Perjalanan Menembus Langit)
Rute: Masjidil Aqsa → Sidratul Muntaha
Usai menyelesaikan urusan di bumi, Rasulullah SAW diangkat ke langit. Pada setiap lapisan langit, Malaikat Jibril meminta izin kepada penjaganya, lalu terjadilah pertemuan dengan para nabi terdahulu.
Berikut urutan pertemuan tersebut:
Langit Pertama: Nabi Adam AS
Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia. Pertemuan ini menggambarkan asal-usul kemanusiaan dan perjuangan menaati perintah Allah sejak awal penciptaan.
Langit Kedua: Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS
Dua nabi yang dikenal karena kesabaran dan keteguhan iman ini melambangkan ketabahan dalam berdakwah meski menghadapi penolakan dan penderitaan.
Langit Ketiga: Nabi Yusuf AS
Di lapisan ini, Rasulullah SAW bertemu Nabi Yusuf AS, sosok yang dianugerahi ketampanan dan keluhuran akhlak. Pertemuan ini mencerminkan keindahan lahir dan batin yang berpadu dalam keimanan.
Langit Keempat: Nabi Idris AS
Nabi Idris AS dikenal sebagai nabi yang diangkat derajatnya karena ilmu dan kebijaksanaan. Ia menjadi simbol pentingnya pengetahuan dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Langit Kelima: Nabi Harun AS
Rasulullah SAW berjumpa Nabi Harun AS, saudara dan pendamping Nabi Musa AS. Ia dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang baik, menegaskan pentingnya kelembutan dan kefasihan dalam menyampaikan dakwah.
Langit Keenam: Nabi Musa AS
Pertemuan ini memiliki peran besar dalam sejarah salat. Nabi Musa AS, yang berpengalaman memimpin umat dalam jumlah besar, menyarankan Rasulullah SAW untuk memohon keringanan jumlah salat hingga akhirnya ditetapkan lima waktu.
Langit Ketujuh: Nabi Ibrahim AS
Di lapisan tertinggi langit, Rasulullah SAW bertemu Nabi Ibrahim AS yang bersandar di Baitul Makmur, tempat ibadah penduduk langit. Pertemuan ini melambangkan kesinambungan tauhid dari peletaknya hingga penyempurnanya.
Puncak Perjalanan: Sidratul Muntaha
Setelah melewati tujuh lapis langit, Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tidak dapat dijangkau makhluk mana pun. Di sinilah Allah SWT menetapkan kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa salat adalah anugerah paling berharga dari langit. Jika Rasulullah SAW harus menembus tujuh lapisan langit untuk menerimanya, maka sudah selayaknya umat Islam menjaganya dengan penuh kesungguhan dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bish-shawab.