Jakarta – Publik sempat dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang turis asal Tiongkok di sebuah hotel di Bali. Wisatawan perempuan yang dikenal sebagai backpacker itu ditemukan tak bernyawa setelah mengalami diare parah dan dugaan keracunan. Ia mengalami keluhan seperti sakit punggung, muntah-muntah, hingga dinyatakan mengalami dehidrasi akibat diare berat.
Dalam kehidupan sehari-hari, diare merupakan salah satu masalah pencernaan yang paling sering dialami. Meski biasanya tergolong ringan, kondisi ini dapat menjadi berbahaya bila tidak ditangani dengan tepat karena berpotensi menyebabkan kekurangan cairan atau dehidrasi.
Untuk mencegah komplikasi, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu meredakan diare:
1. Mengganti Cairan yang Hilang
Diare membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Karena itu, penting untuk segera mengganti cairan yang hilang agar tidak mengalami dehidrasi. Minum oralit adalah pilihan terbaik.
Jika tidak tersedia, Anda dapat mengonsumsi air putih, air kelapa, atau larutan gula-garam. Minumlah sedikit tetapi sering untuk menghindari semakin lemahnya kondisi tubuh.
2. Memilih Makanan yang Tepat
Saat diare, sebaiknya konsumsi makanan yang lembut dan mudah dicerna untuk membantu proses pemulihan. Beberapa pilihan yang dianjurkan antara lain nasi putih, pisang, bubur, roti tawar, atau kentang rebus.
Hindari sementara makanan pedas, berlemak, gorengan, produk susu tinggi laktosa, serta makanan berserat tinggi hingga kondisi membaik.
3. Istirahat yang Cukup
Tubuh membutuhkan waktu dan energi untuk pulih setelah kehilangan banyak cairan. Karena itu, istirahat sangat dianjurkan saat mengalami diare. Batasi aktivitas berat agar tubuh tidak semakin lemas.
4. Menggunakan Obat dengan Bijak
Obat yang paling penting saat diare adalah oralit untuk menggantikan cairan tubuh. Obat antidiare seperti loperamide dapat digunakan bila diperlukan, namun tidak dianjurkan jika diare disertai demam tinggi atau terdapat darah pada tinja.
Jika diare disebabkan infeksi bakteri tertentu, dokter mungkin meresepkan antibiotik. Jangan pernah mengonsumsi antibiotik tanpa pengawasan medis.