Beranda HEALTH Mengenal Apa Itu Hantavirus, Ternyata Berbeda dengan COVID-19
HEALTH

Mengenal Apa Itu Hantavirus, Ternyata Berbeda dengan COVID-19

Tikus sebagai penyebab penularan Hantavirus.
Tikus sebagai penyebab penularan Hantavirus.
Bagikan

Jakarta – Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Kesehatan RI melaporkan puluhan kasus dalam beberapa tahun terakhir. Meski sama-sama disebabkan oleh virus dan dapat menimbulkan gejala serius, Hantavirus memiliki karakteristik yang berbeda jauh dengan COVID-19, terutama dari sisi penularan.

Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 23 kasus Hantavirus dengan tiga kematian di sembilan provinsi selama tiga tahun terakhir. Seluruh kasus yang ditemukan di Indonesia diketahui berasal dari jenis Seoul virus.

Apa Itu Hantavirus?

Menurut World Health Organization (WHO), Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menular ke manusia.

Infeksi virus ini dapat menyebabkan penyakit berat hingga kematian. Dampaknya berbeda-beda tergantung jenis virus dan wilayah penyebarannya.

Di kawasan Amerika, Hantavirus dikenal menyebabkan hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS), yaitu penyakit yang menyerang paru-paru dan jantung secara cepat.

Sementara di Asia dan Eropa, virus ini lebih sering menyebabkan haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), penyakit yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Hingga saat ini belum ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan Hantavirus. Karena itu, penanganan medis sejak dini sangat penting guna mencegah komplikasi serius.

Bagaimana Hantavirus Menular?

Berbeda dengan COVID-19 yang menyebar antarmanusia melalui droplet atau percikan pernapasan, Hantavirus umumnya menular dari hewan pengerat seperti tikus dan mencit.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penularan dapat terjadi melalui:

  • Kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi
  • Gigitan atau cakaran hewan pengerat
  • Menghirup debu atau aerosol yang telah terkontaminasi virus

Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus menjadi langkah utama pencegahan.

Jenis Hantavirus yang Ditemukan di Indonesia

Hantavirus memiliki banyak jenis yang tersebar di berbagai wilayah dunia. Namun, hanya sebagian kecil yang diketahui bisa menginfeksi manusia.

Salah satu jenis yang ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus. Jenis ini termasuk penyebab HFRS dan umumnya berasal dari tikus.

Sementara itu, di Amerika Selatan terdapat Andes virus yang diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dalam waktu lama. Meski demikian, pemerintah menyebut risiko masuknya Andes virus ke Indonesia masih sangat rendah.

Perbedaan Hantavirus dan COVID-19

Berikut beberapa perbedaan utama antara Hantavirus dan COVID-19:

HantavirusCOVID-19
Bersumber dari hewan pengeratMenular antarmanusia
Penularan lewat urine, feses, air liur, atau debu terkontaminasiPenularan lewat droplet dan udara
Kasus relatif lebih sedikitPernah menjadi pandemi global
Dapat menyerang ginjal, paru-paru, dan pembuluh darahDominan menyerang sistem pernapasan
Belum ada terapi khususTersedia vaksin dan terapi pendukung

Tingkat Kematian Perlu Diwaspadai

Meski jumlah kasusnya tidak sebanyak COVID-19, Hantavirus tetap perlu diwaspadai karena memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi.

Kemenkes menyebut beberapa pasien mengalami komplikasi berat seperti kegagalan multiorgan dan penyakit penyerta lain yang memperburuk kondisi.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, terutama area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Bagikan
Berita Terkait

Studi Ungkap Golongan Darah yang Lebih Rentan Terhadap Penyakit Jantung

Jakarta – Golongan darah tidak hanya berperan dalam kebutuhan medis seperti transfusi,...

Bukan Sekadar Tren, Ini Khasiat Matcha untuk Kesehatan dan Kecantikan Kulit

Jakarta – Minuman matcha kini tidak hanya populer sebagai gaya hidup, tetapi...

Akibat Campak, Dokter Muda Gugur Saat Mengabdi di Cianjur

Jakarta – Seorang dokter muda lulusan Universitas Indonesia, Andito Mohammad Wibisono (26),...

BPOM Investigasi Dugaan Penjualan Bebas Tramadol di Kios Jakarta Timur

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) tengah...