Beranda NEWS Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Mengaku Temukan Dua Alat Diduga Pelacak di Mobil
NEWS

Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Mengaku Temukan Dua Alat Diduga Pelacak di Mobil

Ilustrasi alat pelacak digital.
Ilustrasi alat pelacak digital.
Bagikan

Jakarta – Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku menemukan dua perangkat yang diduga merupakan alat pelacak (tracker) pada mobil yang digunakannya saat melakukan perjalanan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Temuan tersebut dibagikan Tiyo melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahannya, ia menjelaskan kronologi penemuan dua perangkat yang menurutnya terpasang pada bagian bawah bodi dan ban mobil.

Berawal dari Perjalanan Kudus ke Semarang

Tiyo menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula saat dirinya melakukan perjalanan dari Kudus menuju Semarang pada Jumat, 12 Juni 2026, menggunakan mobil Toyota Fortuner milik keluarganya.

Setibanya di Semarang, ia menginap di kawasan Tembalang dan sempat mengunjungi beberapa lokasi sebelum menghadiri sebuah kegiatan diskusi keesokan harinya.

Pada Sabtu pagi, ia mengikuti acara diskusi yang diselenggarakan di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jawa Tengah oleh Universitas Muhammadiyah Semarang.

Menurut Tiyo, ketika berada di lokasi kegiatan, ia merasa diperhatikan oleh beberapa orang yang tidak dikenalnya. Ia mengaku melihat orang-orang tersebut mengikuti dan memotret dirinya secara terbuka, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa dirinya sedang diawasi.

Menerima Notifikasi dari Perangkat Pelacak

Usai menghadiri diskusi, Tiyo melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk mengikuti aksi demonstrasi di kawasan Pertigaan Gejayan.

Dalam perjalanan, ponselnya beberapa kali menampilkan notifikasi mengenai keberadaan sebuah perangkat pelacak yang bergerak bersamanya. Karena sedang mengemudi, ia mengaku tidak langsung memperhatikan pemberitahuan tersebut.

Setelah kegiatan demonstrasi selesai pada malam hari, notifikasi serupa kembali muncul. Hal itu mendorongnya memeriksa kendaraan secara lebih teliti.

Saat melakukan pengecekan, Tiyo menemukan sebuah perangkat berbentuk kotak yang dilengkapi magnet dan menempel pada bagian bawah bodi belakang mobil.

Ia kemudian melepaskan perangkat tersebut dan, setelah berkonsultasi dengan beberapa pihak, merendamnya di dalam air karena menduga alat tersebut merupakan perangkat pelacak.

Menemukan Perangkat Kedua

Keesokan harinya, Tiyo kembali melakukan perjalanan menuju Semarang sambil membawa perangkat pertama yang telah dilepas.

Namun, selama perjalanan, notifikasi pada telepon genggamnya kembali menunjukkan adanya perangkat pelacak lain yang masih bergerak bersamanya.

Sesampainya di Semarang, ia kembali memeriksa kendaraan dan menemukan perangkat kedua yang berbentuk bulat pipih. Perangkat tersebut ditempel menggunakan lakban hitam pada bagian ban belakang sebelah kanan.

Penemuan alat kedua membuat Tiyo semakin mempertanyakan asal-usul kedua perangkat tersebut serta kemungkinan keduanya dipasang pada waktu yang berbeda.

Dugaan Dipasang di Lokasi Berbeda

Berdasarkan pengamatannya, perangkat pertama yang ditemukan dalam kondisi bersih meski kendaraan telah melewati hujan selama perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta.

Hal itu membuat Tiyo menduga perangkat tersebut kemungkinan baru dipasang ketika dirinya berada di Yogyakarta.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperolehnya setelah berkonsultasi dengan pihak yang memahami perangkat tersebut, alat kedua diduga telah terpasang sejak Jumat, 12 Juni 2026.

Ia juga menyebut perangkat tersebut disebut terakhir kali diakses oleh pemiliknya pada malam hari saat dirinya masih berada di hotel di kawasan Tembalang, Semarang.

Mengaku Baru Mengetahui Fungsi Perangkat

Tiyo mengaku pada awalnya tidak memahami jenis perangkat yang ditemukan maupun penyebab munculnya notifikasi pada telepon genggamnya.

Ia baru memperoleh penjelasan setelah berkonsultasi dengan pihak yang memahami teknologi pelacak tersebut.

Menurutnya, informasi mengenai waktu pemasangan perangkat membuat dirinya semakin terkejut karena menunjukkan bahwa alat tersebut diduga telah berada di kendaraan sejak awal perjalanan.

Menilai Sebagai Bentuk Intimidasi

Meski belum mengetahui siapa yang memasang kedua perangkat tersebut maupun tujuan sebenarnya, Tiyo menilai keberadaan alat pelacak itu sebagai bentuk intimidasi.

Ia berpendapat bahwa cara pemasangan perangkat yang relatif mudah ditemukan justru dapat dimaksudkan untuk memberikan tekanan psikologis kepada targetnya.

Menurut Tiyo, situasi tersebut dapat menciptakan kesan bahwa setiap pergerakannya diketahui dan terus dipantau oleh pihak tertentu.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum mengenai asal-usul kedua perangkat yang ditemukan maupun pihak yang diduga memasangnya. Dugaan tersebut masih berdasarkan penuturan Tiyo Ardianto dan belum dapat dipastikan melalui proses penyelidikan resmi.

Bagikan
Berita Terkait

Fajar Novario Ciptakan Logo Resmi HUT Ke-81 RI, Pemerintah Libatkan Publik dalam Pemilihannya

Jakarta – Pemerintah resmi memperkenalkan logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan...

Ginka Febriyanti Ginting Jadi Komisaris Pertamina Retail di Usia 27 Tahun, Picu Perdebatan Publik

Jakarta – Nama Ginka Febriyanti Ginting tengah menjadi sorotan publik setelah resmi...

Peserta SPPI Asal Padangsidimpuan Meninggal Saat Jalani Latsarmil di Jakarta

Jakarta – Seorang peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) asal Kota...

Viral! Jeka Saragih Turun Tangan Perbaiki Jalan Rusak di Simalungun, Ini Respons Bobby Nasution

Jakarta – Aksi petarung MMA kebanggaan Indonesia asal Kabupaten Simalungun, Jeka Saragih, mencuri...