Jakarta – Pertemuan perdana KTT Board of Peace (BoP) digelar pada Kamis (19/2/2026) di Washington, Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, bertindak sebagai tuan rumah sekaligus ketua forum tersebut.
Forum yang dipimpin langsung oleh Trump ini disebut akan mengumumkan strategi serta pendanaan rekonstruksi Gaza. Pertemuan berlangsung di US Institute of Peace dan dihadiri perwakilan negara-negara yang telah menyatakan bergabung, termasuk Indonesia.
Meski disebut berpotensi menjadi forum internasional baru yang berpengaruh, kehadiran BoP juga memunculkan perdebatan. Sejumlah pengamat menilai mandatnya bisa menyaingi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), apalagi dengan adanya undangan kepada beberapa pemimpin yang tengah diburu Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Berikut tiga fakta utama KTT perdana Board of Peace:
1. Sebanyak 50 Negara Diundang Jadi Anggota BoP
Gedung Putih mengundang 50 negara untuk bergabung dalam Board of Peace. Sebanyak 35 pemimpin menunjukkan minat, 26 negara ditetapkan sebagai anggota pendiri, sementara sedikitnya 14 negara menolak undangan tersebut.
Secara institusional, Uni Eropa (UE) menyatakan tidak akan bergabung karena kekhawatiran terhadap piagam forum. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, juga menolak undangan menghadiri pertemuan.
Undangan kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, memperumit posisi negara-negara Eropa di tengah perang Ukraina. Hingga kini, Putin belum memastikan keanggotaannya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut bergabung, meski dilaporkan keberatan atas masuknya pejabat Turki dan Qatar dalam Dewan Eksekutif Gaza.
Negara-negara besar Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, dan Spanyol menolak bergabung sebagai anggota. Namun, UE tetap mengirim Komisaris untuk Mediterania, Dubravka Suica, sebagai pengamat.
Dua negara anggota UE, Hungaria dan Bulgaria, memilih bergabung. Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, hadir langsung dalam pertemuan tersebut. Kosovo dan Albania juga menjadi anggota dan hadir di Washington.
Sementara itu, Paus Leo menolak kursi yang ditawarkan dengan alasan krisis seharusnya dikelola oleh PBB.
2. Anggota BoP dari Timur Tengah dan Asia
Sejumlah negara Timur Tengah memutuskan bergabung. Dari Israel, Menteri Luar Negeri Gideon Saar dijadwalkan hadir dalam KTT.
Uni Emirat Arab, Maroko, dan Bahrain menjadi negara Arab pertama yang menyetujui keanggotaan, disusul Mesir. Arab Saudi kemudian bergabung bersama Turki, Yordania, dan Qatar dengan menyatakan komitmen mendukung hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri sesuai hukum internasional.
Kuwait juga ikut bergabung. Sejumlah analis menilai negara-negara Timur Tengah mengambil pendekatan pragmatis demi menjaga hubungan dengan AS sekaligus berupaya mendorong penghentian konflik.
Dari Asia Tengah, Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, dan Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, hadir sebagai anggota. Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, serta Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, juga datang ke Washington.
Dari Asia Tenggara, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri pertemuan tersebut. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, dijadwalkan mengikuti pertemuan anggota dewan.
Pakistan menjadi satu-satunya negara Asia Selatan yang bergabung. Perdana Menteri, Shehbaz Sharif, menyatakan akan hadir. India masih meninjau undangan dan tidak mengirim pengamat. Selandia Baru menolak undangan, sedangkan Australia masih mempertimbangkan sikapnya.
3. Tekanan Domestik di Indonesia dan Pakistan
KTT di Washington tidak hanya berdampak secara diplomatik, tetapi juga berpotensi memicu tekanan politik domestik di sejumlah negara.
Di Indonesia, dukungan terhadap kemerdekaan Palestina telah berlangsung lama dan menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri. Sejak Presiden Prabowo bergabung dalam Board of Peace, opini publik di dalam negeri disebut terbelah. Hasil pertemuan di Washington berpotensi memiliki implikasi politik domestik.
Situasi serupa juga dihadapi oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang memimpin negara dengan publik yang kuat mendukung perjuangan Palestina.
Dengan lebih dari 20 pemimpin dunia berkumpul membahas tata kelola dan keamanan di wilayah Palestina, arah keputusan Board of Peace berpotensi berdampak luas, tidak hanya bagi Gaza, tetapi juga bagi dinamika politik di berbagai negara.
KTT perdana BoP dijadwalkan berlangsung pukul 08.40 waktu Washington atau 20.40 WIB.