Pada Selasa (18/3) pagi waktu setempat, Israel kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Menurut laporan CNN, serangan ini menewaskan setidaknya 210 orang dan menyebabkan ratusan lainnya terluka. Serangan tersebut menyasar berbagai wilayah di Gaza, mulai dari bagian utara hingga selatan, menyebabkan kerusakan parah dan menimbulkan korban jiwa yang signifikan.
Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa serangan ini telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka dalam jumlah besar. Selain itu, Pertahanan Sipil di Gaza melaporkan bahwa banyak orang, termasuk anak-anak, terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat bombardir Israel. Proses evakuasi masih terus dilakukan, dan jumlah korban diperkirakan masih mungkin meningkat seiring dengan berjalannya waktu.
Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Danny Danon, menyatakan bahwa Israel tidak akan menunjukkan belas kasihan selama warganya masih disandera oleh kelompok Hamas di Gaza. Danon juga menuduh Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gagalnya perjanjian gencatan senjata. Ia mengklaim bahwa kelompok pejuang tersebut menolak untuk menyetujui perpanjangan perjanjian damai, yang memicu eskalasi kekerasan lebih lanjut.
Serangan ini terjadi dalam konteks ketegangan yang terus memanas antara Israel dan kelompok Hamas. Kedua pihak telah terlibat dalam konflik berkepanjangan yang sering kali menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak. Serangan terbaru ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut, yang telah menimbulkan penderitaan bagi warga sipil, terutama di Gaza.
Laporan dari berbagai sumber internasional, termasuk media lokal dan organisasi hak asasi manusia, menyoroti dampak serangan ini terhadap penduduk sipil, terutama anak-anak dan perempuan. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman, meskipun tidak ada jaminan keamanan yang sepenuhnya di wilayah yang terus dilanda konflik ini.
Situasi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan dengan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan. Rumah sakit di Gaza dilaporkan kewalahan menangani korban yang terus berdatangan, sementara pasokan listrik dan air bersih semakin terbatas. Organisasi internasional telah menyerukan gencatan senjata segera dan peningkatan bantuan kemanusiaan untuk mencegah krisis yang lebih parah.
Serangan ini kembali mengingatkan dunia akan kompleksitas dan intensitas konflik Israel-Palestina, yang telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa penyelesaian yang berkelanjutan. Sementara kedua pihak saling menyalahkan, warga sipil di kedua belah pihak terus menjadi korban yang paling menderita.