Beranda ENTERTAINMENT Sutradara Palestina Pemenang Oscar Dibebaskan Setelah Ditahan dan Disiksa oleh Tentara Israel
ENTERTAINMENTNEWS

Sutradara Palestina Pemenang Oscar Dibebaskan Setelah Ditahan dan Disiksa oleh Tentara Israel

Sutradara Palestina Peraih Oscar Hamdan Ballal Dibebaskan Usai Dipukuli hingga Ditahan Israel. (Foto:Getty Images via AFP/MONICA SCHIPPER)
Sutradara Palestina Peraih Oscar Hamdan Ballal Dibebaskan Usai Dipukuli hingga Ditahan Israel. (Foto:Getty Images via AFP/MONICA SCHIPPER)
Bagikan

Hamdan Ballal, salah satu sutradara film dokumenter pemenang Oscar No Other Land, akhirnya dibebaskan setelah mengalami penahanan dan kekerasan oleh tentara Israel. Ballal dan dua warga Palestina lainnya dilepaskan dari kantor polisi di pemukiman Kiryat Arba, Tepi Barat yang diduduki, tempat mereka ditahan sejak Selasa (25/3).

Kondisi Ballal Usai Dibebaskan

Ballal ditemukan dengan memar di wajah dan darah di pakaiannya. Rekan sutradaranya, Yuval Abraham, mengungkapkan melalui media sosial X bahwa Ballal “diborgol sepanjang malam dan dipukuli di sebuah pangkalan militer” sebelum akhirnya dibebaskan.

Dalam wawancara dengan The Guardian, Ballal menceritakan pengalaman traumatisnya selama 24 jam ditahan:

  • Matanya ditutup selama penahanan.
  • Dipaksa tidur di bawah AC yang sangat dingin.
  • Mendengar tentara Israel menertawakannya dan menyebut kata “Oscar” dalam bahasa Ibrani, yang tidak dipahaminya.

Latar Belakang Penahanan

No Other Land, film dokumenter yang disutradarai Ballal bersama Abraham dan dua filmmaker lainnya, mengisahkan pengusiran paksa warga Palestina di Tepi Barat oleh Israel. Film ini memenangkan kategori Best Documentary Film di Berlin International Film Festival dan mendapat sorotan global.

Penahanan Ballal diduga terkait dengan aktivitasnya dalam memfilmkan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah pendudukan. Namun, otoritas Israel belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan penahanannya.

Reaksi Internasional

Pembebasan Ballal disambut dengan lega oleh komunitas filmmaker dan aktivis hak asasi manusia. Namun, banyak yang mengecam tindakan kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya. Organisasi seperti Amnesty International dan Human Rights Watch telah mendesak investigasi independen atas insiden ini.

Prospek ke Depan

Ballal diperkirakan akan segera kembali ke keluarganya, tetapi pengalaman ini meninggalkan trauma mendalam. Kasus ini kembali menyoroti tekanan terhadap warga Palestina, termasuk para jurnalis dan pembuat film yang mendokumentasikan situasi di wilayah pendudukan.

Dunia internasional terus memantau perkembangan situasi, sementara seruan untuk mengakhiri kekerasan dan pelanggaran HAM di Tepi Barat semakin menguat.

Bagikan
Berita Terkait

Kenaikan Gaji Petugas Damkar Jakarta: Apresiasi untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan kabar gembira bagi petugas pemadam kebakaran (damkar)...

Kebakaran Hutan Terparah dalam Sejarah Korea Selatan Tewaskan 18 Orang dan Hanguskan Ribuan Hektar

Korea Selatan sedang berduka akibat kebakaran hutan besar yang melanda wilayah selatan...

Saudi Siapkan Ambulans Udara Darurat di Masjidil Haram untuk Musim Haji dan Umrah

Otoritas Bulan Sabit Merah Arab Saudi (Saudi Red Crescent Authority/SRCA) — organisasi...

Penyalahgunaan Tiket Mudik Gratis ke Pulau Raas Marak, Pemudik Terpaksa Bayar hingga Rp 380 Ribu

Program mudik gratis yang diselenggarakan untuk warga Pulau Raas, Sumenep, kembali menuai...