Beranda OTOMOTIF Transisi Mobil Listrik di Indonesia Lambat, Tak Cukup Hanya Andalkan Insentif
OTOMOTIF

Transisi Mobil Listrik di Indonesia Lambat, Tak Cukup Hanya Andalkan Insentif

Transisi Mobil Listrik di Indonesia Lambat, Tak Cukup Hanya Andalkan Insentif.
Transisi Mobil Listrik di Indonesia Lambat, Tak Cukup Hanya Andalkan Insentif.
Bagikan

Jakarta – Upaya mendorong penggunaan kendaraan listrik di Indonesia dinilai belum memberikan dampak signifikan. Meski pemerintah telah mengucurkan berbagai insentif fiskal, peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik (EV) masih berlangsung relatif lambat.

Data dari Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa jumlah kendaraan listrik berbasis baterai memang terus bertambah. Namun, porsinya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total kendaraan nasional yang telah melampaui 150 juta unit.

Head of Industry, Trade, and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, menilai kebijakan yang diterapkan saat ini belum sepenuhnya seimbang. Pemerintah dinilai lebih berfokus pada pemberian insentif untuk kendaraan listrik, tetapi belum diiringi dengan kebijakan disinsentif bagi kendaraan berbasis BBM.

Menurutnya, ketiadaan tekanan terhadap kendaraan konvensional membuat masyarakat belum memiliki dorongan kuat untuk beralih ke kendaraan listrik. Saat ini, kendaraan BBM masih dianggap sama nyamannya, baik dari sisi biaya maupun kemudahan penggunaan.

Ia menjelaskan bahwa di berbagai negara, percepatan transisi energi biasanya tidak hanya mengandalkan insentif, tetapi juga dibarengi dengan pembatasan atau pengetatan penggunaan kendaraan konvensional. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mengubah perilaku konsumen secara lebih cepat.

Selain itu, insentif non-fiskal di Indonesia juga dinilai belum merata. Fasilitas seperti jalur khusus atau kebijakan lalu lintas tertentu baru tersedia di kota-kota besar seperti Jakarta, sementara di banyak daerah lain belum diterapkan.

Di sisi lain, perkembangan kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Dalam kurun waktu 2022 hingga 2025, jumlahnya melonjak hingga sekitar 141 persen, didorong oleh berbagai kebijakan insentif yang ada.

Pemerintah sendiri menargetkan pada tahun 2030 akan ada sekitar 2 juta mobil listrik dan 13 juta kendaraan roda dua listrik yang beroperasi di Indonesia, sebagai bagian dari upaya mencapai target net zero emission (NZE). Namun, capaian saat ini dinilai masih belum sejalan dengan target tersebut.

Ke depan, Andry menekankan perlunya kebijakan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya memperkuat insentif fiskal, tetapi juga menghadirkan insentif non-fiskal yang merata, menerapkan disinsentif bagi kendaraan BBM, serta mendorong kolaborasi lintas sektor agar ekosistem kendaraan listrik dapat berkembang lebih cepat dan merata di seluruh wilayah Indonesia.

Bagikan
Berita Terkait

Leapmotor Mulai Perakitan Lokal Dua Mobil Listrik di Indonesia

Jakarta – Produsen otomotif asal China, Leapmotor, mulai merakit secara lokal dua mobil...

Pabrik BYD di Subang Mulai Beroperasi, M6 dan Atto 1 Siap Diproduksi Lokal

Jakarta – PT BYD Motor Indonesia terus memperkuat komitmennya terhadap pengembangan kendaraan...

Toyota Pamer 3 Mobil Baru di GIIAS 2026, Land Cruiser Hybrid Jadi Bintang Utama

Jakarta – PT Toyota Astra Motor (TAM) menghadirkan tiga model baru pada...

B50 Mulai Dijual di Seluruh SPBU pada 1 Oktober 2026, Pemerintah Siapkan Masa Transisi

Jakarta – Pemerintah menargetkan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di...