Jakarta – Sepanjang 2025, dunia teknologi memang tidak dipenuhi kabar tutupnya produk-produk raksasa secara dramatis. Namun bagi pengamat industri, tahun ini terasa seperti akhir dari sebuah fase penting. Sejumlah teknologi tak sekadar dihentikan, melainkan ditinggalkan sebagai bagian dari pergeseran besar—dari romantisme masa lalu menuju efisiensi, dari perangkat fisik ke layanan digital terintegrasi.
Salah satu perpisahan paling menyentuh datang dari Apple. Hilangnya tombol Home iPhone resmi terjadi seiring dihentikannya iPhone SE dan diperkenalkannya iPhone 16E. Tombol fisik yang selama lebih dari satu dekade menjadi simbol navigasi iPhone itu kini tinggal kenangan. Bagi Apple, langkah ini menegaskan komitmen pada kontrol berbasis gestur—lebih futuristik, meski bagi sebagian pengguna terasa kurang inklusif.
Dari ranah koneksi internet, AOL menutup layanan dial-up pada September 2025. Keputusan ini mengakhiri perjalanan 34 tahun teknologi yang pernah menjadi pintu masuk internet bagi jutaan orang. Ironisnya, penutupan tersebut juga menyisakan persoalan akses bagi wilayah terpencil yang masih mengandalkan koneksi lama itu.
Tidak semua yang hilang berbalut nostalgia. Humane AI Pin menjadi contoh kegagalan ambisi teknologi modern. Perangkat wearable berbasis suara dan AI ini hanya bertahan sekitar satu tahun sebelum dihentikan. Meski HP mengambil alih sumber daya manusia dan patennya, peluang perangkat tersebut kembali ke pasar dinilai sangat kecil—menjadi pelajaran bahwa label “AI-first” saja tak cukup tanpa fungsi yang benar-benar relevan.
Di lini sistem operasi, Microsoft melakukan perubahan simbolik dengan menghapus Blue Screen of Death. Mulai pembaruan Windows Oktober 2025, layar biru legendaris itu diganti menjadi layar hitam. Lebih minimalis dan tenang, namun sekaligus menutup era ikon visual kegagalan Windows yang telah dikenal puluhan tahun.
Perubahan strategi juga terjadi di ekosistem aplikasi. Amazon memutuskan menutup Android Appstore untuk publik dan memusatkan layanannya hanya pada perangkat Fire. Langkah ini menandai fokus Amazon pada ekosistem tertutup yang lebih menguntungkan, sekaligus mengakhiri ambisi bersaing lebih luas di pasar toko aplikasi Android.
Sementara itu, Skype—aplikasi yang pernah merevolusi komunikasi suara dan video—resmi dilebur ke dalam Microsoft Teams versi gratis. Konsolidasi ini mencerminkan arah industri yang kini mengutamakan platform kolaborasi all-in-one, meskipun harus mengorbankan identitas merek legendaris.
Di sektor rumah pintar, Google menghentikan dukungan aplikasi untuk dua generasi awal Nest Learning Thermostat. Meski perangkatnya masih bisa digunakan, berbagai fitur pintar tidak lagi berfungsi. Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana planned obsolescence hadir di era Internet of Things.
Sebagai penutup, Google juga menghentikan firmware konversi controller Stadia ke Bluetooth. Bagi pengguna yang belum sempat memperbarui, perangkat tersebut kini tak lebih dari aksesori mati—simbol terakhir dari ekosistem Stadia yang runtuh sejak 2022.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan satu pola besar: industri teknologi bergerak ke arah efisiensi, skala besar, dan kecerdasan buatan. Yang ditinggalkan bukan selalu teknologi yang gagal, melainkan teknologi yang tak lagi sejalan dengan arah bisnis. Tahun 2025 menegaskan satu hal—dalam dunia teknologi, perubahan adalah satu-satunya yang benar-benar bertahan.