Beranda BISNIS Jejak Kelam Rupiah: Rangkaian Krisis Bersejarah hingga Ambruk ke Level Rp17.500
BISNIS

Jejak Kelam Rupiah: Rangkaian Krisis Bersejarah hingga Ambruk ke Level Rp17.500

Rangkaian Krisis Bersejarah hingga Ambruk ke Level Rp17.500.
Rangkaian Krisis Bersejarah hingga Ambruk ke Level Rp17.500.
Bagikan

Jakarta – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali mencetak rekor pelemahan ekstrem. Pada Selasa (12/5/2026), mata uang Indonesia ini anjlok hingga menembus angka Rp17.505/US$. Jatuhnya Rupiah ke titik nadir ini bukanlah kejadian instan, melainkan puncak dari akumulasi berbagai guncangan ekonomi dan politik dari masa ke masa.

Berikut adalah rekam jejak krisis yang pernah memukul mundur nilai tukar Rupiah:

April – Mei 2026: Puncak Ketegangan Geopolitik Timur Tengah Meski Bank Indonesia menahan suku bunga di angka 4,75%, Rupiah tetap jebol ke Rp17.300/US$ pada April 2026. Situasi memburuk di bulan Mei ketika rencana gencatan senjata AS-Israel dengan Iran menemui jalan buntu. Ancaman Teheran untuk memblokade Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan indeks Dolar, yang pada akhirnya memaksa Rupiah terjerembap ke rekor terburuknya sepanjang masa di Rp17.505/US$.

1997 – 1998: Badai Krisis Moneter & Runtuhnya Orde Baru Gejolak bermula pada akhir 1997 saat cadangan devisa terkuras, memaksa pemerintah beralih ke kurs mengambang bebas dan meminta suntikan dana IMF. Puncaknya terjadi pada Mei-Juni 1998; tragedi Trisakti dan kerusuhan massal memicu krisis politik yang mengakhiri era Presiden Soeharto. Saat itu, Rupiah sempat tersungkur secara intraday ke level Rp16.800/US$.

2001 & 2008: Gejolak Reformasi dan Tsunami Finansial Ketidakstabilan politik pada era pemerintahan Presiden Gus Dur di tahun 2001 sempat menyeret kurs ke kisaran Rp12.000/US$. Tujuh tahun berselang, krisis keuangan global yang dipicu kebangkrutan Lehman Brothers di AS (2008) kembali membuat investor panik dan memborong Dolar AS, menekan Rupiah kembali ke level Rp12.000-an.

2015 – 2018: Efek Domino Kebijakan Global Langkah The Fed menormalkan suku bunga dan devaluasi Yuan China pada 2015 menyedot likuiditas valas domestik. Tekanan berlanjut di 2018 ketika krisis melanda emerging markets seperti Turki dan Argentina, yang memicu pelarian modal asing dan menekan Rupiah hingga menembus batas psikologis Rp15.230/US$.

2020: Syok Pandemi Covid-19 Kepanikan massal di awal masa pandemi membuat dunia lumpuh. Ketakutan atas prospek ekonomi memicu aksi jual besar-besaran oleh investor asing, membuat Rupiah anjlok tajam hingga Rp16.550/US$, yang saat itu menjadi posisi terlemah sejak krisis 1998.

2024 – Awal 2026: Suku Bunga AS dan Kebijakan Trump Kombinasi era suku bunga tinggi The Fed di 2024 dan kebijakan tarif global agresif Presiden AS Donald Trump pada April 2025 terus menekan mata uang Garuda hingga mendekati level Rp17.000/US$. Memasuki awal 2026, kondisi diperparah oleh kekhawatiran investor atas defisit APBN Indonesia yang mencapai 2,92%.

Bagikan
Berita Terkait

Aturan Baru Outsourcing 2026: Pemerintah Batasi Hanya 6 Jenis Pekerjaan

Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia resmi menetapkan pembatasan jenis pekerjaan alih...

HET Minyakita Berpotensi Naik, Kemendag Siapkan Penyesuaian Harga

Jakarta – Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag) tengah mengkaji penyesuaian harga eceran...

Pencabutan Izin Usaha Picu Toba Pulp Lestari Lakukan PHK Karyawan

Jakarta – PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU) berencana melakukan pemutusan hubungan...

Purbaya Tegaskan Wacana Pajak Selat Malaka Hanya Candaan, Bukan Kebijakan

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pernyataannya terkait rencana...