Jakarta – Pernahkah Anda menghadapi seseorang yang dalam setiap konflik selalu merasa paling tersakiti, meski kenyataannya tidak sepenuhnya demikian? Apa pun situasinya, ia selalu menempatkan diri sebagai pihak yang dirugikan dan menolak mengakui perannya dalam masalah tersebut.
Dalam kajian psikologi, pola perilaku ini dikenal dengan istilah playing victim. Perilaku ini bukan sekadar mencari simpati, melainkan mekanisme pertahanan diri, di mana seseorang memosisikan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab atau konsekuensi atas tindakannya.
Apa itu playing victim?
Mengutip berbagai sumber kesehatan mental, playing victim adalah perilaku ketika seseorang terus-menerus merasa dan mengklaim dirinya sebagai korban, serta menyalahkan orang lain atau keadaan atas kesulitan yang dialaminya, meskipun fakta menunjukkan sebaliknya.
Walau tidak tergolong sebagai gangguan kejiwaan, kebiasaan ini dapat berdampak negatif jika dibiarkan. Hubungan sosial menjadi tidak sehat, komunikasi penuh konflik, dan kesehatan mental individu maupun orang di sekitarnya ikut terganggu.
Dalam beberapa kasus, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu, seperti gangguan kepribadian narsistik, borderline personality disorder (BPD), atau gangguan stres pascatrauma (PTSD). Jika berlangsung lama tanpa penanganan, playing victim berpotensi memicu stres berkepanjangan, rasa putus asa, hingga depresi.
Perilaku ini sering berakar pada perasaan menderita yang dibesar-besarkan, hilangnya rasa kendali atas hidup, serta pengalaman traumatis di masa lalu. Tak jarang, playing victim juga dijadikan alat untuk menghindari tanggung jawab, menarik simpati berlebihan, atau menyalahkan pihak lain atas masalah pribadi.
Secara umum, orang dengan mentalitas playing victim memiliki pola pikir sebagai berikut:
- Meyakini bahwa kemalangan akan terus berulang dalam hidupnya.
- Menganggap orang lain atau lingkungan selalu menjadi penyebab masalah.
- Bersikap pesimis dan merasa usaha apa pun tidak akan mengubah keadaan.
Ciri-Ciri Seseorang yang Playing Victim
Mengenali tanda-tanda playing victim penting agar Anda tidak terjebak dalam pola manipulasi emosional. Beberapa karakteristik yang umum ditemukan antara lain:
- Selalu menyalahkan orang lain
Mereka jarang mengakui kesalahan sendiri dan kerap melakukan manipulasi, termasuk gaslighting, agar pihak lain merasa bersalah. - Menghindari tanggung jawab
Peran “korban” dipertahankan demi simpati, bukan untuk mencari solusi atau memperbaiki keadaan. - Narasi negatif dan rasa tidak berdaya
Sering mengeluh bernasib sial seolah hidup selalu tidak adil, sehingga merasa tak perlu berusaha lebih. - Haus perhatian dan validasi
Terus mengulang kisah sedih demi mendapatkan empati dan pembenaran dari orang lain. - Kecemasan berlebihan
Menggunakan rasa takut yang tidak proporsional sebagai alasan untuk menghindari kewajiban atau keputusan. - Sikap manipulatif
Mengontrol hubungan demi keuntungan pribadi tanpa memberi kontribusi seimbang. - Minim empati
Terlalu fokus pada diri sendiri, sulit memahami sudut pandang dan perasaan orang lain.
Penyebab Seseorang Memiliki Mentalitas Playing Victim
Perilaku ini umumnya terbentuk melalui proses panjang dan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:
- Trauma masa lalu
Pengalaman traumatis dapat membentuk pola bertahan yang keliru, di mana menjadi “korban” dianggap cara aman untuk menghindari luka emosional. - Rasa percaya diri yang rendah
Ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri membuat seseorang lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengambil kendali. - Pengalaman pengkhianatan
Pernah dikhianati, ditinggalkan, atau dimanipulasi bisa memunculkan perasaan tidak berharga, sehingga individu terus merasa sebagai korban dalam relasi sosial. - Kesulitan mengelola emosi
Ketidakmampuan mengendalikan emosi negatif seperti marah dan frustrasi membuat mereka merasa terjebak dan tidak berdaya, lalu memilih lari dari tanggung jawab.
Cara Menghadapi Orang yang Playing Victim
Berinteraksi dengan orang yang memiliki pola playing victim memang melelahkan dan kerap menguras emosi. Meski terkesan toxic, penting untuk memahami bahwa perilaku ini sering berakar dari luka lama.
Agar tidak semakin terjebak dalam dinamika yang merugikan, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Tetapkan batasan yang jelas untuk melindungi diri dari manipulasi emosional.
- Dengarkan keluhan mereka, tetapi jangan langsung membenarkan klaim sebagai korban.
- Tunjukkan empati secukupnya tanpa ikut larut dalam drama yang diciptakan.
- Jangan meminta maaf jika Anda tidak bersalah, agar tidak memperkuat manipulasi.
- Berikan dukungan secara wajar tanpa terlibat terlalu dalam.
- Tetap tenang dan hindari perdebatan yang bernada menyerang.
- Arahkan pembicaraan pada solusi dan tanggung jawab, bukan sekadar keluhan.
- Tunjukkan contoh cara menghadapi masalah secara sehat dan realistis.
- Jika perilaku sudah berlebihan dan mengganggu, dorong mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor profesional.
Dengan memahami konsep playing victim, Anda dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan mental sendiri sekaligus membangun relasi yang lebih sehat dan seimbang.