Jakarta – Festival ogoh-ogoh menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan masyarakat Bali menjelang Hari Raya Nyepi. Setiap tahun, warga lokal hingga wisatawan memadati jalanan untuk menyaksikan pawai budaya yang penuh warna ini.
Dalam pelaksanaannya, para pemuda desa mengarak ogoh-ogoh berkeliling dengan penuh semangat. Iringan gamelan, tarian, nyanyian tradisional, serta cahaya obor menambah semarak suasana malam tersebut.
Tak sekadar hiburan, festival ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Bali. Pawai ogoh-ogoh melambangkan proses penyucian diri dari energi negatif sebelum menyambut Tahun Baru Saka.
Lalu, kapan festival ogoh-ogoh tahun 2026 digelar?
Jadwal Festival Ogoh-Ogoh Bali 2026
Mengacu pada informasi dari Pemerintah Kota Denpasar, pawai ogoh-ogoh dilaksanakan pada Hari Pengerupukan atau Ngerupuk, yaitu sehari sebelum Nyepi. Momen ini merupakan bagian penting dari rangkaian ritual yang sarat nilai spiritual dan telah diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan kalender Tahun Baru Saka 1948, Nyepi pada tahun 2026 jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Dengan demikian, pawai ogoh-ogoh digelar pada Rabu malam, 18 Maret 2026.
Pada malam tersebut, masyarakat akan mengarak ogoh-ogoh mengelilingi desa dengan penuh kebersamaan. Prosesi biasanya diakhiri dengan pembakaran ogoh-ogoh sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan.
Makna Tradisi Ogoh-Ogoh
Menurut Pemerintah Kabupaten Buleleng, istilah ogoh-ogoh berasal dari kata “ogah-ogah” dalam bahasa Bali yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Tradisi ini telah berkembang sejak era 1980-an dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala, yaitu kekuatan alam dan waktu yang tidak terbatas. Hal ini digambarkan dalam bentuk patung besar dengan rupa menyeramkan.
Lebih dari itu, ogoh-ogoh juga menjadi simbol sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk menyadari, mengendalikan, dan membersihkan diri dari pengaruh buruk.
Pawai ogoh-ogoh menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Tradisi ini menanamkan nilai untuk hidup selaras dengan lingkungan serta menjaga keberlanjutan kehidupan.