Beranda BISNIS Rupiah Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Risiko Inflasi dan Beban Utang Meningkat
BISNIS

Rupiah Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Risiko Inflasi dan Beban Utang Meningkat

Rupiah Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS.
Rupiah Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS.
Bagikan

Jakarta – Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat sebelum akhirnya ditutup di posisi Rp16.997 pada perdagangan Senin (16/3). Pelemahan ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional.

Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai bahwa depresiasi rupiah membawa dampak yang beragam bagi perekonomian.

Di satu sisi, sektor berbasis ekspor seperti komoditas sawit, batu bara, dan industri manufaktur tertentu berpotensi diuntungkan. Pendapatan dalam dolar AS akan meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Namun di sisi lain, banyak industri dalam negeri masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini membuat pelemahan rupiah justru meningkatkan biaya produksi.

Ronny menekankan bahwa dampak negatifnya bisa lebih luas, terutama karena potensi munculnya imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor. Harga energi, pangan, hingga bahan baku industri berisiko meningkat jika tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Jika kondisi ini berlangsung lama, efeknya dapat merembet ke kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri pemerintah dan korporasi juga akan meningkat dalam rupiah.

Menurutnya, apabila kurs bertahan di kisaran Rp17.000 per dolar AS dalam jangka waktu lama, hal ini bisa mengganggu stabilitas ekonomi domestik, bukan sekadar fluktuasi pasar biasa.

Ronny juga menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor global seperti konflik di Timur Tengah, tetapi juga dipengaruhi sentimen domestik. Biasanya, pergerakan pasar terjadi karena kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal.

Secara regional, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS. Namun, jika pelemahan rupiah lebih dalam dibanding negara lain, pasar bisa melihat adanya kerentanan tambahan dari sisi fundamental ekonomi Indonesia.

Untuk meredam tekanan tersebut, ia menyarankan beberapa langkah strategis. Mulai dari menjaga kredibilitas fiskal, memperkuat koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia, hingga meningkatkan pasokan devisa melalui optimalisasi ekspor dan repatriasi hasil ekspor.

Selain itu, kepastian arah kebijakan pemerintah dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Konsistensi kebijakan dapat membantu menahan tekanan terhadap nilai tukar.

Sementara itu, Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah saat ini masih tergolong wajar karena dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Ia menyebutkan kekhawatiran kenaikan harga minyak dunia serta potensi pelebaran defisit anggaran menjadi sentimen yang membebani rupiah. Investor juga masih menunggu arah kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Dalam kondisi ini, Lukman menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah kebijakan secara simultan, termasuk meninjau ulang program-program dengan anggaran besar agar tekanan terhadap fiskal dapat dikendalikan.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS belum tentu menandakan krisis. Namun, tanpa respons kebijakan yang tepat, kondisi ini berpotensi berdampak pada inflasi, daya beli masyarakat, hingga stabilitas fiskal negara.

Bagikan
Berita Terkait

Agrinas Klarifikasi Terkait Proyek Koperasi Desa Merah Putih

Jakarta – PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah...

UMP Jakarta 2026 Tembus Rp5,7 Juta, Apindo Minta Kenaikan Dikaji Secara Hati-hati

Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP)...

10 Saham Top Gainers Sepekan: Ada yang Melonjak Hampir 95 Persen

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan menarik pada sejumlah saham...

Hashim Bantah Isu Kepemilikan Kebun Sawit oleh Prabowo

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, membantah isu...